Program Harvest International Curriculum


Trimester 5


Pemuridan Sesi 2 dari 5


Topik Sesi 1: Menginjil secara Kontekstual


Bagian 1: Daftar Ayat Renungan


Matius 28 : 18 “Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. 19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."


Yohanes 4 : 17-18 “Kata perempuan itu: "Aku tidak mempunyai suami." Kata Yesus kepadanya: "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, 18 sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar."”


Matius 9 : 11-12 “Dan, ketika orang-orang Farisi melihat hal ini, mereka berkata kepada murid-murid-Nya, "Mengapa Gurumu makan bersama para pengumpul pajak dan orang-orang berdosa?" 12 Akan tetapi, ketika Yesus mendengar hal itu, Ia berkata, "Mereka yang sehat tidak membutuhkan tabib, melainkan mereka yang sakit.”



Bagian 2: Topik Kuliah


Pendahuluan

Pemuridan harus diawali dengan penginjilan terlebih dahulu. Maksudnya adalah, setiap calon murid harus diberikan pelayanan penginjilan sebelum dimuridkan.


1. Penginjilan yang kontekstual.

Sebelum kita menginjil, kita perlu mengobservasi atau mengamat-amati terlebih dahulu orang-orang yang kita hendak injili dan dan budaya mereka.


1.A. Penginjilan kepada orang Yahudi. Yesus melakukan penginjilan ke budaya Yahudi, dan demikian juga Petrus dan Yohanes. Mereka mengajar dan berkhotbah sesuai dengan konteks budaya orang Yahudi.

1.B. Penginjilan kepada orang non-Yahudi. Rasul Paulus mengawali penginjilannya juga kepada orang Yahudi, tetapi kemudian mengarahkan penginjilannya kepada mereka yang non-Yahudi. Saat bersama-sama orang Yahudi, Paulus menjelaskan Allah sebagai Allah dari Abraham, Ishak, dan Yakub. Tetapi saat Paulus ada di kota Atena yang umumnya adalah orang Yunani, ia tidak menyinggung nama Abraham, Ishak, dan Yakub, karena orang Yunani tidak mengenalnya. Sebaliknya orang Yunani memiliki banyak dewa dan dewi beserta altar pemujaannya. Oleh sebab itu Paulus melakukan pendekatan dengan konteks budaya Yunani, dan berupaya memperkenalkan mereka kepada hanya satu Allah yang benar.

1.C. Pendekatan penginjilan yang kontekstual. Paulus tidak datang kepada orang Yunani di Atena dengan menghardik mereka sebagai pendosa, tetapi ia berusaha menyentuh hati dan memenangkan mereka dengan kebenaran yang dilakukan secara kontekstual. Dengan cara yang sama kita pun juga tidak dapat memenangkan jiwa bila kita datang dan tidak menghormati apa yang selama ini orang-orang telah percayai sesuai kepercayaan yang mereka telah anut. Penginjilan yang kontekstual dimulai dengan melakukan observasi yang baik terlebih dahulu. Kita dapat memulainya dengen mengidentifikasikan pendekatan seperti apa yang dapat menyentuh dan menggugah hati mereka, dan bagaimana meletakkan kebenaran firman Tuhan di dalamnya. Kita bisa menggunakan budaya mereka sebagai alat pendekatan. Sebagai contohnya, ada kelompok budaya yang secara luas mempraktekkan meditasi dan menggunakan mantra, secara kontekstual kita bisa mendekati mereka dan mengarahkan meditasi menjadi merenungkan firman Tuhan, dan mengarahkan bermantra menjadi berdoa supaya mereka dialihkan ke dalam kebenaran. Ada juga budaya yang suka menari dan berteriak saat menyembah kepercayaan mereka. Kita bisa menginjil dengan mengadakan pendekatan agar mereka sekarang menari dan berseru kepada Tuhan.

1.D. Menginjil kepada mereka yang menyukai mistisisme. Banyak kepercayaan dunia yang menyukai semua hal yang berbau mistis. Salah satu contohnya adalah pergerakan new age (gerakan zaman baru) yang cepat sekali memenangkan banyak pengikut. Mereka sangat menyukai hal-hal yang bersifat supernatural dan mistis, seperti kepercayaan kepada malaikat. Mereka mengejar segala perkara dan pengetahuan tentang malaikat di luar gereja, padahal bila kita menginjil kepada mereka dan mengajarkan tentang begitu banyak pemahaman akan malaikat dari Injil, maka kita bisa membuat mereka tertarik dan dimenangkan.


2. Perkataan saat Menginjil


2.A. Menggunakan kata-kata yang lebih bisa dipahami. Bila kita berbicara dengan orang Kristen, maka mereka pastinya mengerti saat kita menggunakan kata seperti “pemenang” atau “kemenangan.” Namun bagi orang dunia, mereka lebih bisa memahami kata “sukses” dari pada “kemenangan.” Kita bisa mengaplikasikan kata “sukses” tersebut tetapi harus dalam maksud kebenaran firman Tuhan. Ini juga salah satu teknik cara kita menginjil secara kontekstual.

2.B. Menghindari penggunaan istilah yang berpotensi membingungkan. Demikian juga saat menginjil kita belum tentu bisa mengunakan istilah seperti “Alkitab berkata” atau menginjil dengan memberikan kutipan firman Tuhan. Pada saat Yesus mengajar orang banyak, Yesus tidak memberikan kutipan ayat-ayat Perjanjian Lama, tetapi Ia mengajar dengan menggunakan banyak perumpamaan-perumpamaan.

2.C. Pendekatan bahasa sesuai budaya lokal. Saat menginjil, sebaiknya kita menggunakan kosa kata atau istilah umum budaya lokal yang mudah pahami. Sebagai contoh, saat ibadah Natal, di Amerika biasanya dilakukan “candle light service” atau ibadah penyalaan lilin. Tetapi di Meksiko, ibadah Natal itu lebih dikenal sebagai “roosters mass” atau ibadah ayam jantan. Mereka menggunakan istilah ini sebagai bagian budaya yang mempercayai bahwa pada saat Yesus lahir ayam jantanlah yang pertama kali berkokok dan memproklamirkan kelahiran Yesus. Oleh sebab itu, bila kita membuat ibadah “candle light service” di Meksiko maka mereka tidak akan memahami maksudnya.

2.D. Menghindari perkataan yang menyerang atau menyinggung. Saat menginjil kita tidak boleh langsung menuduh orang-orang sebagai pendosa. Tetapi kita bisa melakukan pendekatan dengan mengatakan bahwa “kamu adalah orang yang dikasihi Tuhan.” Injil seharusnya adalah kabar bagi semua yang mendengarnya, dan bukan kabar yang menuduh. Pada saat bertemu dengan wanita Samaria, Yesus tidak mendakwanya sebagai pendosa yang harus segera “lahir baru.” Tetapi Yesus memulainya dengan menyentuh hati si wanita tersebut dengan meminta air darinya, sesuatu tindakan yang menghormati si wanita karena pada jaman itu bangsa Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria. Lalu daripada menegur hidup si wanita yang hidup dalam perzinahan, Yesus malah memujinya karena ia telah berkata-kata benar di Yohanes 4 : 17-18 “Kata perempuan itu: "Aku tidak mempunyai suami." Kata Yesus kepadanya: "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, 18 sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar."” Setelah itu Yesus melanjutkan dengen memberi pengajaran dan nasihat kepada si wanita Samaria ini sehingga ia tergugah dan bahkan memanggil orang-orang lainnya untuk datang menemui Yesus.


3. Beradaptasi sebagai Metode Penginjilan

Penginjilan harus mengaplikasikan metode dengan cara kita mengadaptasikan diri sesuai dengan budaya yang kita ingin injili.


3.A. Metode Yesus beradaptasi untuk memenangkan Matius dan Zakeus. Baik Matius dan Zakheus adalah pemungut cukai. Yesus melayani Zakheus dengan menumpang di rumahnya. Yesus juga melayani Matius dengan makan di rumahnya bersama-sama banyak pemungut cukai dan orang berdosa. Orang Farisi tidak memahami ini dan mengkritik metode penginjilan Yesus. Matius 9 : 11-12 “Dan, ketika orang-orang Farisi melihat hal ini, mereka berkata kepada murid-murid-Nya, "Mengapa Gurumu makan bersama para pengumpul pajak dan orang-orang berdosa?" 12 Akan tetapi, ketika Yesus mendengar hal itu, Ia berkata, "Mereka yang sehat tidak membutuhkan tabib, melainkan mereka yang sakit.” Yesus mengadaptasikan diri dan menggunakan pendekatan khusus ini karena pendekatan ini tepat untuk memenangkan sebanyak-banyaknya para pemungut cukai dan orang-orang berdosa.


3.B. Yesus mengadaptasikan diri saat melayani Nikodemus. Dengan Nikodemus, Yesus melakukan pendekatan yang berbeda, karena Nikodemus adalah seorang pemimpin agama. Dengan Nikodemus Yesus memberikan pengajaran yang lebih mendalam tentang lahir baru.

3.C. Kita harus bersedia beradaptasi dengan target penginjilan kita. Bila kita menginjil kepada pelaku bisnis, maka kita harus berpakaian rapi dan berbicara seperti mereka. Demikian juga kalau kita menginjil kepada anak-anak muda, maka penampilan kita harus dapat diterima oleh mereka. Inilah pentingnya kita mengobservasi terlebih dahulu siapa yang kita ingin injili, dan mempelajari kebiasaan dan budaya mereka. Setiap kelompok membutuhkan metode berbeda dan menuntut kita untuk beradaptasi demi upaya pendekatan kepada mereka.


4. Tindak Lanjut Orang yang Tersentuh Injil

Banyak orang setelah mendengarkan Injil hatinya tersentuh dan tergugah untuk terima Yesus. Pada saat seperti ini, kita perlu segera menindak lanjuti dengan penginjilan yang lebih mendalam. Untuk orang-orang seperti ini kita perlu memberikan pengajaran-pengajaran lebih lanjut sebelum mereka masuk ke dalam program pemuridan. Materi-materi pengajaran yang penting untuk diajarkan adalah sebagai berikut:


4.A. Pengajaran tentang bagaimana Allah mengasihi kita secara pribadi. Pengajaran ini mencakup pemahaman mengapa Allah harus mengirimkan PutraNya untuk membuktikan kasihNya kepada kita.

4.B. Pengajaran tentang salib Kristus. Karena pengorbanan Kristus di kayu salib, maka semua dosa-dosa kita yang telah diampuni.

4.C. Pengajaran tentang bagaimana saya bisa berpaling dari dosa. Pengajaran ini membebaskan kita dari segala belenggu dosa, kuasa setan, dunia, tahayul, amarah, dendam, dan segala belenggu lainnya.

4.D. Pengajaran tentang kuasa melalui Roh Kudus.

4.E. Pengajaran tentang siapa Yesus itu.

4.F. Pengajaran tentang bagaimana saya bisa merubah dunia melalui kesaksian saya.

4.G. Pengajaran tentang saya adalah bagian dari keluarga Kerajaan Allah.

4.H. Pengajaran tentang bagaimana terlibat dalam gereja.

4.I. Pengajaran tentang persepuluhan.


Setelah seseorang menuntaskan pengajaran-pengajaran ini maka barulah orang tersebut bisa dikatakan telah diinjili. Pada saat inilah ia baru siap untuk dimuridkan.

Bagian 3: Diskusi Kelompok 1. Pikirkanlah suku bangsa yang anda pahami budaya dan kebiasaannya. Bagaimana cara anda mengkontekstualisasikan Alkitab kepada orang dari suku itu yang belu kenal Yesus? Jelaskan.

2. Pernahkah anda mengadaptasikan diri anda untuk suatu misi penginjilan? Jelaskan.