Program Harvest International Curriculum


Trimester 1


Survey Perjanjian Baru Sesi 6 dari 10

Topik Sesi 6: Kitab 1 dan 2 Korintus, dan Kitab Galatia. Surat-Surat Paulus Tentang Kehidupan dalam Kebenaran.

Bagian 1: Daftar Ayat Renungan.

1 Korintus 6 : 18-20Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri. Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”

2 Korintus 12 : 9-10“Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.”

Galatia 5 : 2-4 “Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat.” Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.”



Bagian 2: Topik Kuliah.

Pendahuluan.

Di dalam sesi ini kita akan belajar mengenai kitab 1 dan 2 Korintus, dan kitab Galatia. Kitab-kitab ini juga berbicara mengenai Injil anugerah, ditulis oleh Paulus kepada gereja-gereja yang dibangun bersama rekan-rekannya di Yunani dan Turki. Permasalahan yang ada di dalam gereja-gereja tersebut mendorong Paulus untuk menjelaskan bagaimana seharusnya seseorang percaya hidup menurut Injil kebenaran, baik di rumah, di gereja, maupun di tengah-tengah masyarakat.

1. Kitab 1 Korintus: Praktek kehidupan orang Kristen di tengah masyarakat yang tidak mengenal Kristus.

Kota Korintus adalah koloni Romawi yang makmur dan merupakan kota pelabuhan, kota perdagangan, dan kota kosmopolitan yang terletak di Yunani bagian selatan. Kota ini terkenal dengan masyarakat yang multikultural dengan beragam latar belakang dan budaya. Korintus juga terkenal sebagai kota yang penuh dengan tempat hiburan, di mana penduduknya memiliki gaya hidup bebas dan terbuka, banyak praktek prostitusi di situ dan perilaku asusila mereka sudah meluas. Paulus memberitakan Injil dan membangun gereja di Korintus pada perjalanan misinya yang kedua. Ia kemungkinan telah menulis 4 surat kepada jemaat di Korintus, meskipun kita hanya memiliki 2 dari antaranya. Paulus juga sudah mengunjungi Korintus beberapa kali, karena jemaat ini menghadapi banyak masalah dan tantangan. Masalah-masalah di Korintus dapat dikelompokkan ke dalam 4 bagian:

1.A. Masalah persatuan: Ikutlah Kristus, jangan mengikuti manusia. 1​ Korintus 1 : 12-13 berkata, “Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas atau aku dari golongan Kristus. Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?” Apakah jawaban dari ke 3 pertanyaan itu? Semua jawabannya adalah tidak. Masalah yang diungkapkan di sini adalah perpecahan di mana sebagian mengatakan mereka adalah pengikut Paulus, dan sebagian mengatakan mereka pengikut Kefas atau Petrus.

1.A.1. Hanya ada satu Juru Selamat yang dapat menyelamatkan manusia (1 Korintus 1 : 22-24). Paulus mengajar, karena hanya ada satu Juru Selamat yang telah mati untuk kita semua, maka jemaat Korintus tidak sepatutnya berkelompok menjadi pengikut manusia. Paulus berkata bahwa masing-masing dari kita hanya hamba Kristus. Ia berkata, “Aku yang menanam, Apolos yang menyiram, tetapi Tuhan yang memberikan​ pertumbuhan. Tema kesatuan ini penting karena Allah itu satu. Jika kita ingin​ menyatakan Allah sesuai dengan kepribadian-Nya, maka kitapun juga harus menjadi satu, dalam landasan kasih. Yesus berdoa di Yohanes 17 : 21-22, “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Yohanes 13 : 35 “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." Di dunia ada kurang lebih 23.800 denominasi Kristen saat ini. Tuhan tidak menentang denominasi, tetapi menentang denominasionalisme. Denominasionalisme adalah pikiran yang sempit, yang membuat denominasi itu eksklusif. Ini adalah pikiran yang menekankan pengabdian pada prinsip atau kepentingan denominasi saja. Denominasi itu seperti suku-suku di Israel yang berjumlah 12 suku yang berbeda. Dalam hal ini adanya perbedaan itu tidak masalah selama kita bersatu di dalam Kristus. Dalam persatuan inilah maka Injil dapat dikomunikasikan lebih baik.

1.A.2. Setiap utusan Kristus berbeda karena masing-masing memiliki tugas yang unik. Setiap utusan Kristus adalah rekan sekerja Allah yang harus berbuah. 1 Korintus 4 : 1-2 “​Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.” Paulus mengingatkan kembali tentang keberadaan dan fungsi hamba-hamba Kristus yang kepada mereka dipercayakan rahasia Allah. Keselamatan di dalam Kristus harus diberitakan melalui perkataan, tindakan, dan sikap kita, yang meskipun memiliki tugas berbeda tetapi bersatu dalam satu tujuan.

1.B. Masalah Kekudusan: Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar, karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu. Kekudusan itu adalah sifat Allah​. Banyak jemaat di Korintus yang sudah terpengaruh karena mereka hidup di tengah masyarakat yang asusila. Mereka mulai terpengaruh dengan berpikir bahwa perut ini diprioritaskan untuk makan, dan juga tubuh untuk tujuan hubungan seks. Ini bukan cara berpikir yang yang baik. Paulus berkata dalam 1 Korintus 6 : 18-20​, ​“Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri. Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar, karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” Oleh sebab itu kita harus kudus sama seperti Allah adalah kudus.

1.C. Masalah Kasih: Ketika kamu berkumpul bersama, biarlah itu untuk membangun jemaat. Saat jemaat berkumpul untuk perjamuan kudus, banyak yang melakukannya dengan mengabaikan kasih.

1.C.1. Makanlah perjamuan kudus dengan cara yang benar. Cara mereka melakukan perjamuan kudus sesungguhnya menguji hubungan mereka dengan saudara-saudara dalam Kristus. Paulus memberikan nasehat mengenai perjamuan kudus dalam ​1 Korintus 11 : 17​ “Dalam peraturan-peraturan yang berikut aku tidak dapat memuji kamu, sebab pertemuan-pertemuanmu tidak mendatangkan kebaikan, tetapi mendatangkan keburukan.” Masalahnya adalah pada saat mengadakan perjamuan kudus, jemaat Korintus menganggapnya sebagai acara makan-makan bersama. 1 Korintus 11 : 20-21 “​Apabila kamu berkumpul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan perjamuan Tuhan. Sebab pada perjamuan itu tiap-tiap orang memakan dahulu makanannya sendiri, sehingga yang seorang lapar dan yang lain mabuk.” Diperkirakan masalah ini timbul ada karena banyak orang kaya di gereja datang lebih awal serta membawa makanan, sedangkan kelompok yang miskin datang kemudian karena masih harus bekerja dahulu. Dan pada saat kelompok yang miskin datang, makanan pun sudah habis. Ini tidak seharusnya terjadi, karena dalam perjamuan kudus kita mengaku bersatu dalam Kristus. Oleh sebab itu kita harus belajar untuk menghormati tubuh Kristus saat merayakan perjamuan kudus di sekeliling semua yang hadir. Jika ini tidak diperhatikan, maka ini akan membawa penghakiman bagi diri kita sendiri, seperti ditulis dalam 1​ Korintus 11 : 28-31 “Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal. Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita.”

1.C.2. Kasih adalah tujuan utama dalam mengejar karunia-karunia Roh untuk membangun tubuh Kristus. 1 Korintus 13 : 13 “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih,dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” 1 Korintus 14 : 1 ​“​Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat.” 1 Korintus 14 : 12 “Demikian pula dengan kamu: Kamu memang berusaha untukmemperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih dari pada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun Jemaat.” Gereja di Korintus beroperasi dengan banyak karunia-karunia Roh Kudus dalam pelayanan mereka. Paulus mengajar penggunaan karunia-karunia Roh Kudus yang benar di suratnya ini. Di 1​ Korintus 12 : 31 Paulus berkata, “Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi.” Apakah semua orang memiliki karunia untuk menyembuhkan? Karunia untuk bernubuat? Ataupun menerjemahkan bahasa Roh? Jawabannya mungkin tidak. Setiap orang memiliki karunia yang berbeda. Tetapi kita harus berusaha memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Maksud karunia paling utama ini bukanlah karunia yang paling hebat. Karunia yang utama artinya adalah karunia yang dapat membangun tubuh Kristus. Biarkanlah karunia-karunia Roh Kudus ini menjadi kasih Allah yang dinyatakan. 1​ Korintus 14 : 26 “Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun.”


1.D. Masalah Kebenaran: Jemaat Korintus masih ada yang tidak percaya bahwa Yesus bangkit.

1.D.1 Kebangkitan Kristus menjamin kebangkitan kita. Kebangkitan Kristus adalah kemenangan Allah dan Kerajaan-Nya atas semua musuhnya. 1 Korintus 15 : 22, “Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.” Di pasal 15, Paulus mengajar tentang kebangkitan secara khusus. Pola pandang masyarakat Yunani mengalami kesulitan memahami konsep kebangkitan Kristus. Filosofi Yunani menganggap semua yang bersifat materi adalah jahat. Sehingga bila Yesus dibangkitkan dengan tubuh jasmaniah-Nya lagi, maka Yesus belum bisa terlepas dari dunia materi yang jahat ini. Oleh sebab itu banyak yang beranggapan bahwa Yesus tidak dibangkitkan lagi dalam tubuh jasmaniah-Nya. Oleh sebab itulah mereka menyangkal adanya kebangkitan. Tetapi dalam surat Paulus di 1 Korintus 15 : 12 Paulus menjelaskan “Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dariantara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati?” Jika tidak ada kebangkitan, maka pemberitaan kabar baik menjadi sia-sia, iman kita percuma, dan lebih buruk lagi kita menjadi saksi-saksi palsu. Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka kita tetap hidup di dalam dosa-dosa kita, dan setiap orang percaya yang telah mati tidak akan pernah bangkit kembali. Tetapi dengan tegasi Paulus mengajar bahwa Kristus sungguh-sungguh telah dibangkitkan dari antara orang mati​. ​1 Korintus 15 : 20 berkata, “Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.” Karena Adam semua manusia menderita kematian, tetapi di dalam Kristus semua ​orang yang percaya akan dibangkitkan.

1.D.2. Kemenangan Kristus atas kematian membuat semua orangyang percaya juga beroleh kemenangan. Orang percaya melayani Allah yang hidup, yaitu Yesus Kristus yang hidup. Konsep kebangkitan adalah detak jantung Injil. Maut telah ditaklukkan oleh kemenangan Kristus di kayu salib. 1​ Korintus 15 : 55-57 “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” Inilah perbedaan iman Kristen dari semua agama kepercayaan lainnya. Kubur Kristus kosong, karena Kristus hidup untuk selama lamanya.

2. Kitab 2 Korintus: Paulus Membela Diri dan Menjelaskan Panggilannya.

Surat 2 Korintus mungkin ditulis 1 sampai 1,5 tahun setelah Paulus menulis surat 1 Korintus. Paulus sangat bahagia karena banyak orang-orang di Korintus meresponi teguran yang ditulis pada suratnya yang pertama. Surat ini ditulis antara lain untuk memuji respon jemaat di Korintus. Namun, di bagian terakhir surat ini Paulus berbicara mengenai orang yang menolak otoritas Paulus sebagai Rasul. Di surat ini kita mendapati keterbukaan hubungan baru antara Rasul Paulus dengan jemaat Korintus. Paulus bertindak seperti bapa mereka dalam iman dan menganggap jemaat Korintus sebagai anak-anaknya. Paulus menyatakan penyesalannya karena sebelumnya telah menulis surat dengan teguran yang cukup keras, yang mungkin telah menyedihkan jemaat Korintus sehingga mereka berduka-cita. 2 Korintus 7 : 9-10 berkata, “namun sekarang aku bersukacita, bukan karena kamu telah berdukacita, melainkan karena dukacitamu membuat kamu bertobat. Sebab dukacitamu itu adalah menurut kehendak Allah, sehingga kamu sedikitpun tidak dirugikan oleh karena kami. Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian.” Paulus merasa tidak ada yang lebih membahagiakan daripada memiliki anak-anak yang bersedia dikoreksi oleh didikan orangtuanya. Kita mendapati di surat ini Paulus mulai membuka isi hatinya dengan sangat pribadi. Di surat ini Paulus juga menuliskan hal mengenai pelayanannya kepada mereka yang dilakukannya karena ia sangat mengasihi mereka.

2.A. Perubahan hidup Paulus adalah bukti nyata akan kebenaran panggilan dan pelayanannya sebagai utusan dari perjanjian baru. 2 Korintus 3 : 1-3 berkata, “Adakah kami mulai lagi memujikan diri kami? Atau perlukah kami seperti orang-orang lain menunjukkan surat pujian kepada kamu atau dari kamu? Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang. Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.” Paulus menulis bahwa ia tidak perlu surat pengakuan, rekomendasi, bukti, mandat, ataupun penghargaan. Tetapi kehidupan orang-orang Korintus yang telah diubahkan adalah bukti pelayanannya. Bahkan saat Paulus tidak bersama mereka sekalipun, Injil itu tetap ada di dalam hati mereka dan sampai ke anak-anak mereka. Inilah suka cita yang dibicarakan Paulus, yaitu suka cita seorang bapa yang melihat perubahan kehidupan rohani anak-anaknya.

2.B. Rasul-rasul sejati mengalami penderitaan demi Kristus. Paulus bersukacita dalam penderitaaan dan penganiayaan, di mana dalam kelemahan justru ia menjadi kuat oleh kekuatan Kristus. Di sini Paulus juga berbicara mengenai rasul-rasul palsu yang menyesatkan jemaat di Korintus. Rasul-rasul palsu ini bisa dibedakan karena mereka tidak bersedia menderita bagi Injil Kristus. Bukan saja mereka tidak dapat menunjukkan tanda-tanda mujizat, mereka bahkan juga tidak bisa membuktikan perubahan hidup mereka sendiri. Paulus juga berkata bahwa ia harus menderita segala sesuatu demi Injil Kristus. Dalam 2 Korintus pasal 11, Paulus berbicara mengenai berbagai penderitaan yang dialami, bukan supaya orang-orang bersimpati padanya, tetapi Paulus justru bersyukur atas penderitaan tersebut. Paulus juga memiliki suatu duri dalam daging, yaitu suatu bentuk kesusahan fisik atau keterbatasan fisik, yang disebabkan oleh utusan iblis. Paulus sudah memohon 3 kali kepada Tuhan untuk mengangkatnya, tetapi yang Tuhan katakan di 2 Korintus 12 : 9-10 adalah "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” Oleh sebab itu bila kita sedang mengalami banyak penderitaan bagi Kristus yang membuat fisik tubuh kita lemah, kita harus bersukacita sebab ini adalah kesempatan Kristus menunjukkan kekuatanNya.

3. Kitab Galatia: Paulus mengajukan pembelaannya dan mengajarkan Injil anugerah.

Gereja-gereja yang ada di propinsi Galatia terletak di bagian selatan Turki, dan dibangun oleh Rasul Paulus dalam perjalanan misinya yang pertama. Tetapi beberapa orang dari kalangan Kristen Yahudi pernah datang dari Yerusalem dan mengajarkan ajaran iman Kristen yang berbeda dari yang Paulus ajarkan. Paulus kemudian menyurati jemaat di Galatia untuk mengoreksi pengajaran yang tidak benar tersebut.

3.A. Injil yang diberitakan Paulus berasal dari Kristus dan bukan dari Yerusalem. Galatia 1 : 11-12 “Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia. Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus.” Para pengajar Kristen Yahudi dari Yerusalem mengajar jemaat Galatia yang umumnya adalah non-Yahudi untuk memelihara hukum Taurat guna mencapai keselamatan. Hal-hal yang mereka ajarkan antar lain kepatuhan praktek sunat pada laki-laki, hal mengkonsumsi makanan halal, dan keharusan untuk memelihara hari Sabat. Karena pengajaran ini, maka jemaat di Galatia mulai mempercayai dan mengikuti pengajaran ini. Tetapi ketika hal ini diketahui Paulus, ia segera menyampaikan dalam suratnya bahwa Injil yang ia ajarkan berasal dari penyataan langsung Yesus, bukan dari Yerusalem. Injil kasih karunia ini diajarkan berdasarkan apa yang Tuhan Yesus nyatakan dan lakukan.

3.B. Jemaat Galatia telah menerima Roh Kudus karena iman percaya, dan bukan karena melakukan hukum Taurat. Galatia 3 : 2-3 “Hanya ini yang hendak kuketahui dari pada kamu: Adakah kamu telah menerima Roh karena melakukan hukum Taurat atau karena percaya kepada pemberitaan Injil? Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging?” Paulus menjelaskan jika mereka telah menerima Kristus dengan pertobatan dan iman, maka mereka harus terus berjalan demikian di dalam Kristus. Namun bila mereka mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat, mereka sebenarnya hidup di luar kasih karunia. Galatia 5 : 4 “Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.”

3.C. Hukum Taurat tidak dapat menyelamatkan. Hukum Taurat hanya menuntun sampai kedatangan Kristus. Galatia 3 : 24-25 “Tidak ada seorangpun yang dibenarkan karena melakukan hukum taurat, hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman dalam Kristus Yesus. Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun​.“

3.D. Keselamatan melalui iman dalam Kristus memberi kebebasan untuk melayani sesama dalam kasih. Galatia 5 : 13-14 “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!" Di sini Paulus menjelaskan bahwa hukum Taurat itu baik dan bijak, dan dalam hukum Taurat ini sesungguhnya sudah tercakup hukum kasih. Namun hukum Taurat itu tidak memberikan kita kekuatan untuk mematuhinya. Sebaliknya, Yesus telah menggenapi hukum Taurat untuk kita dan Yesus tinggal di dalam kita melalui kehadiran Roh Kudus. Roh Kudus inilah yang mengubahkan orang percaya dari dalam dirinya sehingga menjadi manusia baru. Kehadiran Roh Kudus memberikan kita kemerdekaan untuk mulai melayani dan mengasihi sesama kita.

3.E. Barang siapa mengabarkan Injil yang lain akan dikutuk. Para penyesat-penyesat iman Kristen telah jatuh dari anugerah. Buah yang mereka ajarkan adalah pekerjaan daging yang menghancurkan setiap hukum Taurat yang mereka masih tuntut untuk dijunjung tinggi. Galatia 5 : 2-4 “Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat. Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.”

3.F. Barangsiapa hidup dalam iman dan berjalan dalam pimpinan Roh Kudus akan diberkati, karena mereka memenuhi hukum Taurat. Galatia 5 : 18-23 “Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat. Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu seperti yang telah kubuat dahulu bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”

Rasul Paulus mengajar bahwa iman Kristen yang terutama adalah iman yang menyatakan dirinya dalam kasih​. Galatia 5 : 6 “Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.” Kondisi inilah yang menggenapi hukum Taurat. Orang percaya yang bebas dari hukum Taurat menggunakan kebebasan itu untuk menggenapi hukum Taurat dengan mengasihi sesama seperti ia mengasihi diri sendiri. Inilah kebebasan yang sejati, bebas untuk melakukan segala sesuatu yang Tuhan ingin kita lakukan, dan yang terutama adalah mengasihi Allah dan mengasihi satu dengan yang lain.


Bagian 3: Diskusi Kelompok.

1. Gereja di Korintus menghadapi 4 masalah utama. Masalah yang mana yang sekarang ini gereja anda sedang alami, dan bagaimana menurut anda cara menyelesaikan masalah tersebut? 2. Bagaimana anda bisa memetik pelajaran dari duri dalam dagingnya Paulus ?