Program Harvest International Curriculum


Trimester 4


Rekonsiliasi Sesi 3 dari 4


Topik Sesi 3: Rekonsiliasi Allah Menaklukkan Rasa Takut dan Penyesatan Iblis


Bagian 1 : Daftar Ayat Renungan


2 Timotius 1:7 “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”


Ibrani 2 : 14-15 “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; 15 dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.”


Galatia 5 : 19-21 “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, (20) penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, (21) kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.”

Pendahuluan

Rasa takut telah membelenggu manusia sejak kejatuhan mereka. Rasa takut ini memisahkan hubungan manusia dengan Allah yang benar. Iblis bekerja dengan mengendarai ketakutan sebagai alat untuk terus memisahkan manusia dari Allah mereka. Tetapi Yesus datang menaklukkan iblis yang dipersenjatai oleh ketakutan itu, dan merekonsiliasikan hubungan manusia dengan Allah.



Bagian 2 : Topik Kuliah


1. Rasa Takut Membuat Manusia Takluk pada Iblis

Iblis adalah penguasa atas maut, dan maut telah menjadi sumber ketakutan terutama dari umat manusia. Tetapi Yesus datang untuk membebaskan mereka yang seumur hidupnya terintimidasi akan maut ini. Ibrani 2 : 14-15 “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; 15 dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.”


1.A. Iblis terus berupaya mengintimidasi manusia dengan takut akan maut. Tanpa pengenalan akan Allah, maka Iblis dapat terus mengintimidasi sehingga manusia hidup dalam kuasa ketakutan akan maut. Dengan kuasa ketakutan ini Iblis lalu lebih lanjut membuat manusia menjadi pribadi yang penakut, malu, tidak percaya diri, dan lebih buruk lagi menjadi manusia yang tidak peduli akan Allah. Bila kita sudah terintimidasi dan terjebak oleh rasa takut dari iblis ini, maka ketakutan itu akan mengikat kita.

1.B. Pengenalan akan Allah membebaskan manusia dari segala rasa takut. Allah merekonsiliasi umat manusia dengan cara mereka mulai mengenal Allah kembali melalui firman-Nya. Dengan pengenalan akan Allah ini maka manusia diperlengkapi dengan kuasa yang mengalahkan segala rasa takut. 2 Timotius 1 : 7 “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” Yesus datang untuk menghancurkan segala kuasa ketakutan dengan mengembalikan manusia kepada pengenalan akan Allah serta pengertian tentang kuasa dari kasihNya. Menurut 2 Timotius 1 : 7, jika rasa takut itu takluk, maka dampak yang dihasilkan adalah kekuatan, kasih, dan ketertiban.

1.C. Pengenalan akan Allah membutuhkan pengertian akan firman Tuhan. Dalam perumpamaan seorang penabur, ada benih yang jatuh dipinggir jalan sehingga datanglah burung dan memakannya. Perumpamaan ini menggambarkan firman Allah yang ditaburkan dalam hati seorang, yang karena firman tersebut tidak dimengerti olehnya maka firman itu lalu dicuri oleh iblis. Oleh sebab itu rekonsiliasi dari Allah menuntut agar kita memiliki pengertian yang baik akan firman Tuhan. Hanya dengan pengertian akan firman inilah maka kita akan dibawa kepada pengenalan akan Allah dengan benar sehingga kita dapat menaklukkan semua rasa takut. Amsal 4 :7 “Permulaan hikmat ialah: perolehlah hikmat dan dengan segala yang kauperoleh perolehlah pengertian.


2. Rasa Takut Memisahkan Manusia dengan Allah


2.A. Manusia bersatu membangun menara Babel. Kejadian 11 : 1 “Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya.” Kehendak Allah dari semula adalah agar manusia menyebar mengisi seluruh bumi, bukan untuk berkumpul dan berkelompok di satu tempat saja. Dalam kisah menara Babel, manusia saat itu bersatu dalam satu bahasa sehingga mereka saling mengerti satu dengan lainnya. Dalam persatuan ini mereka memiliki kuasa dan kekuatan, dan bahkan tidak memiliki rasa takut. Mereka menjadi arogan dan tidak mentaati kehendak Allah untuk mengisi seluruh bumi. Kuasa dan kekuatan yang mereka miliki dipergunakan untuk menentang Tuhan dengan membangun kota dengan menara yang menjulang tinggi. Hati mereka dipenuhi oleh dosa, dan apapun yang mereka rencanakan mengarahkan mereka kepada hidup yang bertentangan dengan Allah.

2.B. Allah menyerakkan manusia dengan mengacau-balaukan bahasa mereka. Kejadian 11 : 7-9 “Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing." (8) Demikianlah mereka diserakkan TUHAN dari situ ke seluruh bumi, dan mereka berhenti mendirikan kota itu. (9) Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu disebut Babel, karena di situlah dikacaubalaukan TUHAN bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh bumi.” Sekarang manusia tidak lagi bersatu, mereka tidak lagi saling mengerti satu dengan lainnya karena komunikasi mereka dikacaukan oleh Allah. Pada saat ini manusia mulai mengenal rasa takut, karena mereka tidak lagi sekuat saat mereka bersatu.

2.C. Dengan bahasa yang beragam maka terbentuklah kebudayaan. Setelah Allah mengacaukan bahasa mereka, maka manusia hidup dalam kelompok-kelompok. Kelompok-kelompok masyarakat terbentuk berdasarkan kesamaan bahasa yang mereka gunakan. Dan dalam setiap kelompok maka kebudayaan unik pun terbentuk. Dalam definisinya, kebudayaan adalah sistem kepercayaan, tradisi, pemikiran pemikiran, dan kebiasaan-kebiasaan yang terdapat dalam kelompok kelompok masyarakat. Ragam bahasa dan kebudayaan ini memicu perpindahan penduduk, sehingga manusia mulai tersebar ke seluruh bumi.

2.D. Tetapi karena rasa takut manusia mulai merancang allah mereka masing-masing. Karena sekarang manusia tidak lagi kuat dalam persatuan seperti pada jaman menara Babel, mereka mulai dirundung rasa takut. Dalam ketakutan inilah mereka mulai mengkonstruksi allah mereka masing-masing. Akhirnya didapati setiap kebudayaan berjalan dalam pertentangan akan Allah dengan berhala-berhalanya sendiri. Mereka semua sudah kehilangan pewahyuan tentang Allah yang benar. Oleh sebab itu maka sangatlah penting bagi Allah untuk menyatakan diriNya kembali kepada umat manusia guna merekonsiliasi manusia dengan diriNya.

2.E. Allah menyatakan diriNya melalui Abraham. Allah memanggil Abraham keluar dari suatu kebudayaan yang tidak mengenal Allah, kebudayaan yang memiliki banyak berhala yang dipicu oleh ketakutan mereka. Dari satu orang Abraham, terbentuklah suatu bangsa Israel, yaitu sebuah kebudayaan dan masyarakat yang dibangun oleh Allah sendiri. Ini adalah inisiatif Allah untuk merekonsiliasi manusia dengan DiriNya sendiri. Allah berfirman kepada Abraham bahwa dari keturunan Abraham akan datang Adam yang terakhir, yaitu Yesus Kristus, yang akan mempersatukan kembali seluruh manusia dalam kebenaran Allah. Manusia telah terbelenggu oleh rasa takut dan oleh berhala-berhala mereka. Mereka hidup dalam kegelapan dan maut. Namun Tuhan Yesus datang dalam kebenaran dan terang sehingga kegelapan, kematian, dan semua rasa takut itu lenyap.

2.F. Pentakosta adalah bagian dari rekonsiliasi Allah. Pada hari Pentakosta terjadilah suatu pencurahan Roh Kudus yang mempersatukan kembali setiap orang percaya. Hari Pentakosta merupakan pemulihan dari kisah menara Babel. Dalam kisah menara Babel orang-orang bersatu dalam satu bahasa untuk pengertian sesat menentang Allah dengan membangun menara. Tetapi pada hari Pentakosta manusia memiliki bahasa-bahasa yang berbeda tetapi semuanya menerima satu pengertian yang benar tentang Allah mereka. Pengertian ini menaklukkan rasa takut manusia dan merekonsiliasi hubungan mereka dengan Allah.


3. Iblis Menyesatkan dan Memecah Belah

Gal 5 : 19-21 “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, (20) penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, (21) kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.”


3.A. Keinginan daging dipicu oleh ketakutan manusia. Keinginan-keinginan daging ini adalah hasil dari kondisi ketakutan manusia yang telah jatuh kedalam dosa. Berikut adalah 4 kategori keinginan daging sesuai dengan Galatia 5:

1. Keinginan yang tidak terkendali atau hawa nafsu, yaitu: percabulan, kecemaran, kenajisan.

2. Kepercayaan tahayul, yaitu: penyembahan berhala dan peraktek sihir atau okultisme.

3. Masalah sosial, yaitu: kebencian, perseteruan, dan iri hati.

4. Tindakan dosa yang berlebihan, yaitu: kemabukan dan pesta pora. Iblis tentunya diuntungkan oleh keinginan-keinginan daging ini. Saat kita terikat oleh keinginan daging sesungguhnya kita sedang bekerja sama dan mendukung pekerjaan si Iblis. Tetapi keinginan-keinginan daging itu sendiri bukanlah pekerjaan dari Iblis.

3.B. Pekerjaan Iblis adalah menyesatkan manusia agar mereka menjadi takut. Perbuatan iblis bisa dibedakan dari keinginan-keinginan daging yang ditulis di Galatia 5. Yohanes 8 : 44 “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.” Definisi dusta adalah segala sesuatu yang dilakukan secara sengaja dalam upaya menyajikan gambaran yang keliru. Di 1 Korintus 4 : 4 iblis disebut sebagai ilah yang membutakan pikiran manusia. Di 2 Tesalonika 2 : 8-10 iblis disebut sebagai pendurhaka yang menipu dengan rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu. Dengan demikian berdasarkan ayat-ayat tersebut pekerjaan iblis dapat dikerucutkan kepada satu kata saja, yaitu: penyesatan. Melalui penyesatan atau dusta ini maka iblis menyerang dengan tujuan untuk terus menerus mengintimidasi manusia.


3.C. Iblis menyesatkan baik individu dan juga bangsa-bangsa. Wahyu 20 : 3 “lalu melemparkannya ke dalam jurang maut, dan menutup jurang maut itu dan memeteraikannya di atasnya, supaya ia jangan lagi menyesatkan bangsa-bangsa, sebelum berakhir masa seribu tahun itu; kemudian dari pada itu ia akan dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya.” Ayat ini membuktikan bahwa iblis bukan saja menyesatkan manusia secara individu, tetapi ia berkerja untuk menyesatkan bangsa-bangsa. Kata bangsa-bangsa di sini diterjemahkan dari kata “etnos” atau yang kita sekarang kenal sebagai “etnis.”

3.D. Iblis menyesatkan dengan memecah belah. Wahyu 12 : 10-11 “Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata: "Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita.Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut. Kata “pendakwa” dari ayat-ayat diatas berasal dari kata bahasa Yunani “kategorio” yang merupakan asal kata “kategori” dalam bahasa modern kita. Kata kategori ini digunakan untuk menggolongkan atau memberi nama, yang berarti mengkarakteristikkan kelompok-kelompok tertentu. Ini menjelaskan metode iblis dalam menyesatkan bangsa-bangsa. Iblis menciptakan label atau mengelompokkan masing-masing etnis atau suku bangsa, memisahkan dan memecah-belahkan mereka. Iblis memicu perpecahan dengan cara membesarkan perbedaan-perbedaan yang ada, sehingga merusak hubungan antar umat manusia. Darah Anak Domba adalah pengorbanan Tuhan Yesus yang me-rekonsiliasi kita antar sesama manusia dan membawa kita bersama-sama dalam persatuan ilahi kembali kepada pengenalan akan Allah.


Penutup

Saat komunikasi manusia terputus dengan Allah, maka di situ ada ketidak-pengertian, dan iblis mengambil kesempatannya untuk terus menerus mengintimidasi kita dengan berbagai rasa takut. Rasa takut ini adalah kekuatan dari si iblis yang bila tidak ditaklukkan akan mendera dan memecah belah umat manusia. Tapi dengan kebenaran firman Allah oleh karya Yesus kita sekarang telah dibebaskan dari segala intimidasi dan perpecahan. Kita sudah memperoleh kembali pengenalan akan Allah dan mulai mengerti sudut pandang Allah. Allah-lah yang telah berinisiatif untuk melakukan rekonsiliasi ini sehingga bukan saja hubungan antar umat manusia dipulihkan, tetapi juga hubungan semua umat manusia dengan Allah.


Bagian 3 : Diskusi Kelompok:

1. Menurut anda, mengapa rasa takut memicu segala keinginan daging? Jelaskan.

2. Jelaskan bagaimana rasa takut selama ini merusak hubungan anda dengan sesama dan dengan Allah.