Program Harvest International Curriculum


Trimester 4


Rekonsiliasi Sesi 2 dari 4


Topik Sesi 2: Rancangan Rekonsiliasi Allah kepada Umat Manusia


Bagian 1: Daftar Ayat Renungan.

Efesus 1 : 9-10 “Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus 10 sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.”


1 Korintus 12 : 12 “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.”


Yeremia 1 : 5 "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa."


Pendahuluan

Arti dari kata rekonsiliasi adalah suatu pemulihan hubungan kepada keadaan semula yang menyelesaikan perbedaan. Di sesi ini kita mulai mempelajari bagaimana Allah mengambil inisiatif untuk menyelesaikan hubungan yang rusak antar sesama umat manusia dan antara umat manusia dengan Allah. Melalui rekonsiliasi ini terbentuklah kembali suatu persatuan umat manusia sesuai rancangan semula Allah, di mana mereka semuanya tunduk kepada Allah yang benar.


Bagian 2: Topik Kuliah.


1. Hukum Benih Membuktikan Rancangan Allah dalam Mempersatukan Umat Manusia.

Dalam kitab Kejadian kita mendapati adanya suatu pola yang bisa disebut sebagai hukum benih. Hukum ini berkata bahwa segala sesuatu dimulai dari suatu benih potensi yang ditempatkan Allah kepada manusia mula-mula yang kemudian bertumbuh dan berkembang menjadi suatu pengalaman.


1.A. Allah telah menempatkan benih potensi pada Adam yang berguna untuk keberlangsungan umat manusia. Semua yang dibutuhkan umat manusia untuk berbuah, bermultiplikasi, dan untuk berkuasa atas seluruh ciptaan Allah di dunia telah ditempatkan Allah pada diri Adam dalam suatu bentuk benih potensi. Dengan demikian setiap keturunan Adam sudah memiliki kemampuan dan mandat yang sama dalam diri mereka.


1.B. Tujuan penempatan benih potensi ini adalah untuk menciptakan saling ketergantungan. Pada sesi sebelumnya kita telah membahas rancangan awal dari Allah untuk seluruh umat manusia, di mana Allah telah menjadikan setiap individu dengan keunikannya masing-masing. Keunikan ini lalu juga didapati pada saat setiap individu berkelompok membentuk suatu bangsa, dengan tujuan agar setiap individu dan setiap bangsa membangun hubungan saling ketergantungan antara satu dengan lainnya. Dalam saling ketergantungan inilah maka kita menemukan rancangan awal Allah untuk suatu persatuan di antara umat manusia. Tetapi rancangan awal Allah ini digagalkan dengan hadirnya dosa.

1.C. Kisah Kain. Kain berdosa karena ia telah membunuh Habel, adiknya. Tetapi meskipun ia telah berdosa dan dibuang dari hadapan Allah, Kain tetap tidak kehilangan gambar Allah dalam dirinya dan benih potensi yang diwariskannya melalui Adam, ayahnya. Kejadian 4 : 17-22 “Kain bersetubuh dengan isterinya dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Henokh; kemudian Kain mendirikan suatu kota dan dinamainya kota itu Henokh, menurut nama anaknya. 18 Bagi Henokh lahirlah Irad, dan Irad itu memperanakkan Mehuyael dan Mehuyael memperanakkan Metusael, dan Metusael memperanakkan Lamekh. 19 Lamekh mengambil isteri dua orang; yang satu namanya Ada, yang lain Zila. 20 Ada itu melahirkan Yabal; dialah yang menjadi bapa orang yang diam dalam kemah dan memelihara ternak. 21 Nama adiknya ialah Yubal; dialah yang menjadi bapa semua orang yang memainkan kecapi dan suling. 22 Zila juga melahirkan anak, yakni Tubal-Kain, bapa semua tukang tembaga dan tukang besi. Adik perempuan Tubal-Kain ialah Naama.” Dari ayat-ayat ini kita bisa mendapati bahwa meskipun manusia jatuh dalam dosa mereka tetap memiliki benih potensi untuk memberikan kontribusi sebagai berikut:

1.C.1. Ada suatu kota yang didirikan. Pendirian kota menggambarkan perkembangan umat manusia dalam bentuk perpindahan penduduk dan urbanisasi.

1.C.2. Setiap keturunan Kain terbukti memiliki benih-benih potensi khusus. Benih-benih potensi dari setiap keturunan dari Kain terbukti terus memberikan kontribusi-kontribusi khusus, seperti Yabal si pemelihara ternak, Yubal sebagai ahli pemain kecapi dan suling, dan Tubal-Kain sebagai ahli tembaga dan besi. Masing-masing memberikan kontribusi mereka kepada masyarakat. Semuanya ini adalah bukti bahwa benih potensi tetap berkembang meskipun manusia telah jatuh dalam dosa.

1.C.3. Tetapi dosa tetap menghambat persatuan yang sesuai rancangan Allah. Meskipun mereka masing-masing saling berkontribusi, tetapi mereka tetap tidak bisa hidup dalam persatuan ilahi sesuai rancangan awal Allah. Masing-masing tetap hidup dalam pemisahan antara satu dan lainnya, tidak ada tali yang mempersatukan semuanya yang membentuk mereka semua sebagai satu umat manusia.


1.D. Yesus sebagai Adam yang terakhir me-rekonsiliasi apa yang manusia telah gagal lakukan dengan benih potensi yang mereka miliki. Allah telah tempatkan pada Yesus benih potensi baru yang dibutuhkan semua umat manusia, sehingga mereka menerima rekonsilasi dan bisa dikumpulkan kembali dalam suatu persatuan di dalam Yesus sebagai kepala mereka. Efesus 1 : 9-10 “Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus 10 sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.”


2. Keberadaan Tubuh Kristus Membuktikan Rancangan Rekonsiliasi Allah dalam Mempersatukan Umat Manusia..

1 Korintus 12 : 12 “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.” Tubuh Kristus dirancang oleh Allah demi menciptakan saling ketergantungan yang benar. Meskipun anggota Tubuh Kristus itu banyak, tetapi masing-masing adalah bagian dari satu tubuh yang utuh dan mereka harus saling mengandalkan.


2.A. Keberadaan Tubuh Kristus tidak membenarkan diskriminasi. Dikarenakan adanya konsep saling ketergantungan, maka setiap orang percaya tidak diperbolehkan menghakimi orang lain dari warna kulit, bentuk fisik, ataupun perbedaan-perbedaan lainnya.


2.B. Sebaliknya kita harus menerima satu dengan lainnya sesuai dengan kontribusi yang Allah telah tanamkan pada setiap orang. Kontribusi-kontribusi unik dari masing-masing individu seharusnya menjadi perbedaan yang mempersatukan.


3. Nubuatan Akhir Jaman tentang Bangsa-Bangsa

Wahyu 21 : 24-26 “Dan bangsa-bangsa akan berjalan di dalam cahayanya dan raja-raja di bumi membawa kekayaan mereka kepadanya; 25 dan pintu-pintu gerbangnya tidak akan ditutup pada siang hari, sebab malam tidak akan ada lagi di sana; 26 dan kekayaan dan hormat bangsa-bangsa akan dibawa kepadanya.” Ayat-ayat ini menggambarkan situasi setelah kedatangan kedua dari Yesus, setelah penghakiman Tahta Putih, dan setelah dibentuknya langit dan bumi yang baru dan Yerusalem baru turun dari sorga.


3.A. Di Yerusalem baru Allah masih mengidentifikasi manusia menurut bangsa-bangsa. Pada ayat-ayat di atas dikatakan bahwa pada saat itu bangsa-bangsa akan berjalan di dalam cahaya Yerusalem baru, dan bahkan di bagian akhir juga dikatakan mereka juga akan membawa kekayaan dan hormat bangsa-bangsa masuk ke dalam Yerusalem baru sebagai persembahan bagi Allah. Ini berarti pada masa Yerusalem baru, yaitu setelah puncak rekonsiliasi dari Allah telah selesai, bangsa-bangsa bersatu tetapi keunikan masing-masing bangsa masih dikenali.


3.B. Yang dimaksud dengan kekayaan bangsa-bangsa. Di ayat ke 24 dikatakan bahwa raja-raja di bumi akan membawa kekayaan mereka masuk ke Yerusalem baru. Kata kekayaan ini diterjemahkan dari kata “kemuliaan,” yang di sini artinya adalah suatu nilai berharga yang sudah terkandung di dalam suatu obyek. Dengan demikian ayat ini mengajar bahwa dalam persatuan kekal nanti, setiap bangsa berkumpul dengan membawa semua keunikan yang berharga yang mereka miliki.


4. Identitas Diri Penting dalam Rekonsiliasi.

Bila di jaman Yerusalem baru keunikan setiap individu dan bangsa mempermuliakan Allah, maka dari sekarang kita harus sangat menghargai dan memelihara setiap keunikan dari setiap individu dan bangsa. Keunikan ini bisa dipahami sebagai suatu identifikasi dari seseorang atau dari suatu bangsa.


4.A. Bangsa tidak seharusnya menolak bangsa lainnya. Bangsa-bangsa dikenal dengan kontribusi yang mereka berikan kepada seluruh umat manusia. Ada bangsa-bangsa yang dikenal karena makanannya, teknologinya, kecanggihan agrikulturnya, ilmu pengetahuannya, seninya, dan lain sebagainya. Bila ada bangsa yang menolak bangsa yang lain, maka bangsa yang menolaknya itu menghilangkan suatu kontribusi penting yang Allah telah rancangkan untuk mereka bisa nikmati bersama.

4.B. Setiap individu juga tidak seharusnya menolak individu lainnya. Sebagaimana setiap bangsa itu unik, maka setiap individu juga memiliki kontribusi khusus yang ia bisa bagikan. Dan bila ia ditolak, maka mereka yang menolaknya jungan membuang suatu kontribusi yang Allah telah rancangkan untuk bisa dinikmati bersama-sama.

4.C. Masalah terbesar dari setiap individu adalah ketika ia kehilangan identitasnya. Identitas diri seseorang seharusnya bisa menjawab pertanyaan pertanyaan seperti: Siapakah saya? Bagaimana saya merasa dinilai oleh orang lain? Apa yang saya percayai tentang tujuan hidup saya? Seperti apakah nasib hidup saya? Setiap jawaban pertanyaan ini bukan saja menunjukkan identifikasi diri, tetapi juga memberikan informasi tentang kontribusi apa yang Allah dapat berikan kepada umat manusia melalui diri kita.

4.D. Identitas di dalam Yesus. Yohanes 1 : 10-12 “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. 11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. 12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.” Melalui ayat-ayat ini, disebutkan ada dua kategori manusia: 1) Manusia jasmaniah yang beridentifikasi dengan dunia, dan 2) Manusia rohani yang beridentifikasi dengan Allah. Bila kita ingin mencari jati diri kita secara jasmaniah maka kita tidak akan pernah dapatkan identifikasi kita yang sesungguhnya ataupun potensi kita sepenuhnya dalam rupa dan gambar Allah.

4E. Manusia hanya bisa menemukan jati dirinya dari Allah itu sendiri. Hanya di dalam Allah-lah seseorang bisa menemukan asal-usul, tujuan, dan arah hidup yang sebenarnya. Yeremia 1 : 5 "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa." Nabi Yeremia terlahir sebagai orang Yahudi. Tetapi asal-usul sebenarnya dari Nabi Yeremia melampaui ke-Yahudian-nya dia. Fakta bahwa Allah telah mengenalnya sebelum ia lahir membuktikan bahwa Yeremia telah eksis dalam pikiran Allah sebelum ia lahir. Dan pada saat Yeremia ada di dalam pikiran Allah maka Yeremia tidak bisa dibatasi hanya sebagai seorang Yahudi saja. Yeremia sesungguhnya adalah ekspresi dari kehendak Allah di dunia.


4.F. Dunia tidak dapat mengerti identifikasi orang percaya dalam rupa dan gambar Allah. Di Injil Matius, silsilah Yesus menghubungkanNya sebagai keturunan Raja Daud, yang adalah seorang manusia. Tetapi di Injil Lukas, silsilah Yesus menghubungkanNya langsung kepada Adam yang disebut sebagai anak Allah. Keduanya menggambarkan warisan manusia dan juga warisan kekuasaan Allah yang ada pada diri Yesus. Tetapi siapa jati diri Yesus ini tidak dapat dimengerti oleh orang-orang Farisi yang jasmaniah. Yohanes 8 : 14 “Yesus menjawab mereka, kata-Nya, "Sekalipun Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, kesaksian-Ku adalah benar karena Aku tahu dari mana Aku datang dan ke mana Aku pergi, tetapi kamu tidak tahu dari mana Aku datang dan ke mana Aku pergi.” Demikianlah juga identifikasi diri kita di dalam Allah tidak dapat dimengerti oleh orang-orang dunia.


5. Allah Memakai Hamba-HambaNya sebagai Agen Rekonsiliasi

Di Matius 13 : 3-8 Yesus mengajarkan perumpamaan tentang “penabur,” di mana Yesus menjelaskan tentang benih yang jatuh di pinggir jalan, di tanah yang berbatu, di tengah semak duri, dan di tanah yang baik. Kemudian di Matius 13 : 24-30 Yesus meneruskan pengajarannya dengan perumpamaan tentang “lalang di antara gandum,” yaitu tentang orang yang menabur benih yang baik di ladangnya di mana lalu musuh datang menaburkan benih lalang juga.


Ada perbedaan antara perumpamaan “penabur” dan perumpamaan “lalang di antara gandum.” Perumpamaan tentang “penabur” mengajarkan tentang proses bagaimana hati manusia menerima taburan benih firman Tuhan. Sedangkan perumpamaan tentang “lalang di antara gandum” mengajarkan tentang bagaimana manusia yang telah memiliki benih firman Tuhan ditaburkan ke dalam dunia. Dalam kisah Nabi Yeremia, Allah telah mengenal Yeremia, dan Ia telah menempatkan benih firmanNya ke dalam Yeremia. Lalu pada waktu yang tepat, Yeremia mulai melayani Allah dan pada saat itulah Allah menabur Yeremia ke dalam dunia ini. Demikian juga dengan kita. Allah telah menempatkan benih firmanNya ke dalam hati kita, dan sekarang Allah sedang mengirimkan kita ke dunia ini.


Ini berarti identifikasi kita yang bermuara pada Allah telah menjadikan kita agen-agen rekonsiliasi dari Allah. Kita sekarang memahami bahwa identifikasi jati diri kita sesungguhnya bukanlah dari ras, suku bangsa, dan lainnya. Ini bukan berarti kita tidak lagi menghargai dan menghormati asal-usul dan latar belakang duniawi kita. Tetapi kita mengerti sekarang bahwa keunikan itu semata-mata adalah cara Allah menjadikan setiap kita sebagai sumber kontribusi unik kepada umat manusia. Sebagai manusia yang memiliki gambar dan rupa Allah dan telah menerima rekonsiliasi Allah, sekarang kita bisa ditabur ke bangsa lain, suku lain, atau kebudayaan manapun. Firman yang ada dalam hati kita-lah yang akan mengangkat kita melampaui segala perbedaan-perbedaan manusia dan membawa suatu persatuan Ilahi sesuai rancangan Allah.


Penutup

Pada saat kita memahami bahwa Allah memiliki rencana untuk mempersatukan kita, maka kita tidak lagi melihat perbedaan-perbedaan kita sebagai masalah. Setiap perbedaan itu sesungguhnya ada sebagai bukti kebesaran Allah yang secara ilahi dirancangkan demi suatu persatuan. Kita adalah orang-orang yang berbeda latar belakang, memiliki bahasa, suku bangsa, latar belakang, atau kebudayaan yang berbeda. Tetapi kita berkumpul bersama-sama di dalam satu Tuhan dalam satu iman dari satu Allah dari segala allah, yaitu Yesus Kristus.

Bagian 3: Diskusi Kelompok.

1. Apakah mungkin manusia dipersatukan dalam kejatuhan dosa mereka tanpa Kristus? Jelaskan.


2. Jelaskan bagaimana Yeremia 1 : 5 itu juga berlaku pada anda?