Program Harvest International Curriculum


Trimester 4


Rekonsiliasi Sesi 1 dari 4



Topik Sesi 1: Sudut Pandang Alkitab tentang Kebudayaan, Ras, Suku Bangsa, dan Rekonsiliasi.



Bagian 1: Daftar Ayat Renungan.

1 Tesalonika 5 : 23 “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.”


Yohanes 4 : 4-10 “Ia harus melintasi daerah Samaria. Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: "Berilah Aku minum. Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.""



Bagian 2: Topik Kuliah.


Pendahuluan.

Empat sesi ke depan akan diajar oleh Pastor A.R. Bernard. Beliau adalah gembala dari Gereja Christian Cultural Center Megachurch di Brooklyn, New York. Beliau memiliki TV program, radio, dan sekolah alkitab online untuk jenjang magister.

Pada hari terakhir pelayanan Tuhan Yesus, Ia mengumpulkan murid-muridNya di Bukit Zaitun dan membahas tentang kedatangan Yesus yang kedua kali. Dalam Injil Lukas 21 : 10 dikatakan “Ia berkata kepada mereka: ‘Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan,’” Kata bangsa dalam bahasa aslinya, Yunani, adalah “etnos”, merupakan akar kata “ethnis” yang artinya suku bangsa. Saat ini kita sering mendengar banyak terjadi pembersihan etnis yaitu penghapusan paksa terhadap kelompok etnis atau agama tertentu dari sebuah kawasan yang dilakukan oleh kelompok etnis yang lebih berkuasa dalam rangka menciptakan masyarakat yang homogen atau seragam. Dalam empat seri materi ini kita akan belajar sudut pandang Alkitab tentang kebudayaan, ras, suku bangsa, dan rekonsiliasi.


1. Pelayanan Yesus Melampaui Batas Ras dan Budaya.


1.A. Ketidak-pedulian adalah hal yang paling kejam dalam kehidupan bermasyarakat. Manusia cenderung merasa tidak peduli atau bahkan memusuhi hal-hal yang mereke belum pahami atau kenal. Sungguh mudah bagi kita untuk menciptakan permusuhan atau perpecahan di antara sesama manusia apabila kita tidak memahami satu sama lain.

1.B. Tuhan Yesus terdorong untuk melewati Samaria demi menunjukkan bahwa kasih Allah melampaui ras, suku bangsa, dan tingkat sosial. Yohanes 4 : 4-7 “Ia harus melintasi daerah Samaria. Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: "Berilah Aku minum."

1.B.1. Latar belakang orang Samaria. Kota Samaria adalah ibu kota Kerajaan Israel Utara yang jatuh ke tangan Kerajaan Asyur. Saat itu, sebagian orang Israel yang dideportasi ke Asyur dan banyak orang asing yang dibawa masuk untuk memastikan kedamaian bagi Kerajaan Asyur. Lalu terjadilah pernikahan campur antara bangsa Asyur dan bangsa Israel yang melahirkan orang-orang campuran yang dikenal dengan sebutan orang Samaria. Bangsa Israel yang tinggal di bagian Selatan membenci orang-orang Samaria karena bangsa Israel Selatan ini merasa dikhianati oleh orang-orang Israel yang sudah kawin campur. Orang-orang Samaria ini memang masih percaya akan Allah yang sama dengan Allah Israel, tetapi mereka menyembah Allah di Bukit Gerizim dan bukan di Yerusalem.

1.B.2. Yesus melihat melampaui ras, suku bangsa, dan tingkat sosial. Dari ayat di atas, kita melihat bahwa Yesus tetap berbicara dan bahkan meminta minum, meskipun Ia tahu orang tersebut adalah orang Samaria, seorang wanita yang tidak kudus, dan tingkat sosialnya di bawah orang Yahudi.

1.B.3. Yesus membawa kebenaran kepada kepada wanita tersebut. Yohanes 4 : 17-18 Kata perempuan itu: "Aku tidak mempunyai suami." Kata Yesus kepadanya: "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar." Kebenaran yang dipaparkan oleh Yesus inilah yang membuat wanita Samaria tersebut terkesima dan menyebarkan berita tentang Yesus, sehingga banyak orang Samaria di kota tersebut menjadi percaya kepada Yesus (Yohanes 4 : 39).


2. Pandangan Allah tentang Suku Bangsa dan Ras.

Alkitab seringkali menulis tentang suku-suku bangsa, terutama di Perjanjian Lama. Beberapa contohnya adalah orang Kanaan, orang Het, orang Yebus, orang Mesir, orang Filistin, orang Mesir, dan lain-lain. Setiap suku bangsa memiliki latar belakang kebudayaan, bahasa, dan agama sendiri. Ada perbedaan yang signifikan antara etnis dan ras, yaitu:

2.A. Suku-suku bangsa ada karena ini adalah cara Allah mendeskripsikan kelompok-kelompok manusia. Kejadian 10 : 20 Itulah keturunan Ham menurut kaum mereka, menurut bahasa mereka, menurut tanah mereka, menurut bangsa mereka.” Kata “kaum” di sini bisa diterjemahkan sebagai “keluarga.” Ayat di atas dapat dijelaskan ulang bahwa Allah mendeskripsikan manusia di dunia terbagi-bagi dalam kelompok keluarga, bahasa, dan teritori di mana mereka tinggal. Ini bukanlah identitas diri mereka di mata Allah.

2.B. Ras adalah cara manusia mengklasifikasi diri menurut penampakkan jasmaniah, misalnya berdasarkan warna kulit, bentuk muka, bentuk mata. Pengelompokkan melalui ras ini bukanlah pola pandang Allah pada manusia ciptaanNya.

2.C. Tuhan menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya (Kejadian 1 : 26-28). Bila manusia ingin mengalami pemulihan atas segala konflik antar manusia yang selama ini terjadi, maka manusia perlu kembali pada identitas jati diri aslinya mereka, dan bukan mengambil identitas diri berdasarkan suku bangsa atau ras mereka. Identitas ini hanya didapatkan dari Alkitab yang menyatakan bahwa setiap manusia berasal dari Allah, sebab setiap dari mereka diciptakan menurut rupa dan gambar Allah.


3. Trikotomi Manusia Membuat Setiap Manusia dan Bangsa Unik.


3.A. Dalam 1 Tesalonika 5 : 23 berkata “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” Rasul Paulus menjelaskan tentang trikotomi manusia, yaitu tubuh, jiwa, dan roh. Hal ini berhubungan dengan tanggung jawab yang diberikan Allah kepada Adam sebagai pengelola bumi. Ada 3 jenis tanggung jawab yang Tuhan berikan kepada Adam dan semua manusia:

3.A.1. Tanggung jawab rohani adalah menerima, menjaga, dan mengajarkan Firman Tuhan.

3.A.2. Tanggung jawab jiwa yang termasuk pikiran serta intelektual kita adalah mengembangkan dan mengajarkan pengetahuan tentang dunia yang Tuhan sudah ciptakan.

3.A.3. Tanggung jawab jasmani adalah mempersiapkan asupan yang baik yang dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini dimaksudkan agar seluruh tubuh menunjang fungsi rohani dan jiwa dengan lebih efektif.


3.B. Setiap individu harus memiliki ketiga tanggung jawab tersebut di atas. Biasanya setiap individu memiliki kecenderungan untuk lebih memprioritaskan salah satu dari trikotominya. Ada orang-orang yang lebih mementingkan rohaninya, ada yang lebih mementingkan jiwanya, dan ada juga yang lebih mementingkan tubuh jasmaninya. Keadaan ini membentuk suatu keunikan bagi setiap individu manusia.


3.C. Allah menciptakan saling ketergantungan antar manusia dan antar bangsa. Setiap keunikan pada masing-masing individu membentuk kondisi saling ketergantungan antar manusia. Dan karena setiap individu ini berkumpul membentuk suatu bangsa, maka demikian juga dalam lingkupan suatu bangsa ada bangsa-bangsa yang lebih mementingkan keadaan rohani mereka, jiwa mereka, dan juga keadaan jasmaniah mereka. Hal-hal ini diijinkan Allah terjadi agar terbentuklah juga suatu keunikan dari setiap bangsa, dan di sinilah Allah menciptakan kondisi ketergantungan antar bangsa. Kisah Para Rasul 17 : 26-27 “Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, (27) supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing.” Ayat ini menjelaskan bagaimana Allah telah menetapkan waktu khusus, tempat khusus, dan tujuan khusus bagi setiap bangsa sepanjang sejarah sedemikian rupa agar mereka masing-masing berkontribusi bagi bangsa-bangsa lainnya. Dari kesemuanya ini Allah menginginkan agar semua bangsa-bangsa ini memiliki saling ketergantungan dalam upaya mereka mencari Allah.

4. Amanat Agung adalah Tanggung Jawab dari Individu dan juga Bangsa-Bangsa.

4.A. Yesus memerintahkan kita untuk mewartakan Injil kepada setiap individu dan segala bangsa. Markus 16 : 15 “Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Setiap makhluk di ayat ini melambangkan setiap individu manusia. Matius 28 : 19 “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Di ayat ini Yesus memberikan perintah untuk menginjil kepada bangsa-bangsa.

4.B. Allah memiliki tuntutan baik bagi para individu dan juga bangsa-bangsa untuk meneruskan Amanat AgungNya ini. Baik setiap individu dan juga setiap bangsa dituntut untuk berbuah-buah bagi Allah. Ketika Yesus kembali, Ia akan menjadi hakim atas setiap individu dan semua bangsa berdasarkan buah-buah mereka.

4.C. Alkitab mengajarkan kegagalan bangsa Israel untuk berbuah. Kita sekarang dapat memahami penghakiman atas Israel. Alkitab menulis bagaimana Israel gagal berbuah-buah, meskipun Allah telah menganugerahkan nasihatNya, firmanNya, dan nilai-nilai keIlahianNya. Allah telah menyatakan pewahyuanNya kepada bangsa Israel, berharap agar bangsa Israel lalu menyebarkannya ke seluruh dunia. Tetapi mereka, sebagaimana masih terjadi pada bangsa-bangsa di jaman sekarang, lebih mengidentifikasi diri pada nasionalisme mereka sendiri daripada beridentifikasi kepada Allah yang telah menyelamatkan mereka.


Penutup

Dari satu orang, yaitu Adam, Allah telah membentuk bangsa-bangsa sedemikian banyak dengan keunikannya agar setiap dari mereka berkontribusi mendatangkan kebaikan bagi seluruh umat manusia. Dan kehendak terutama Allah adalah agar semuanya ini berujung pada semua individu dan bangsa-bangsa kembali beridentifikasi kepada Allah yang telah menciptakan mereka seturut gambar dan rupaNya. Allah rindu agar mereka bersatu dan bersama-sama mencari Allah dengan segenap hati mereka.

Bagian 3: Diskusi Kelompok.

1. Anda diciptakan untuk memiliki saling ketergantungan dengan orang-orang lain. Jelaskan bagaimana ini sudah terjadi dalam kehidupan pribadi anda.


2. Sepanjang sejarah manusia mengalami banyak konflik yang diakibatkan oleh identifikasi diri yang mereka ciptakan sendiri. Bagaimana menurut anda Alkitab menjadi solusi bagi semua ini saat mereka semua kembali kepada identifikasi diri sebagai ciptaan dalam gambar dan rupa Allah?