Program Harvest International Curriculum


Trimester 4


Mengembangkan Kepemimpinan Sesi 3 dari 5



Topik Sesi 3: Memelihara Hati yang Sehat.


Bagian 1 : Daftar Ayat Renungan.


Yohanes 10 : 27 “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.”


Yesaya 53 : 10 “Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya.”


3 Yohanes 1 : 2 “ Saudaraku yang kekasih, aku berdoa semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja”.


Mazmur 34 : 3 “Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.”


Bagian 2 : Topik Kuliah.

Pendahuluan.

Dalam tanggung jawab kepemimpinan kita diberikan kesempatan untuk dapat memberikan suatu teladan hidup bagi orang lain. Yohanes 10 : 27 “Domba-domba Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.” Sebagaimana domba-domba Yesus mengikuti teladan Yesus, maka kita harus mempunyai kehidupan yang dapat diteladani orang lain. Kita sudah membahas di sesi sebelumnya bahwa hal terpenting dari seorang pemimpin berawal dari hatinya. Di sesi ini kita akan mengkaji lebih lanjut bagaimana seorang pemimpin memelihara hati yang sehat.

1. Karena Yesus maka Kesukaan Allah Digenapi dalam Hidup Kita.

Yesaya 53 : 10 “Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya.” Ayat ini menjelaskan bahwa melalui penderitaan dan kematian Yesus maka apa yang menjadi rancangan Tuhan bisa terlaksana. Sebagai seorang pemimpin kita harus terus menerus mengingatkan diri bahwa hanya karena karya Yesus sajalah maka sekarang Tuhan bisa melaksanakan kesukaannya, yaitu untuk memberkati hidup kita. Bila kita terus mengingat hal ini maka hati kita akan senantiasa terjaga dan sehat.


1.A. Kita adalah kesukaan Allah. Ada 4 hal yang membuktikan kita adalah kesukaan Allah:

1.A.1. Menciptakan manusia merupakan kesukaan Allah. Wahyu 4 : 11 mengatakan bahwa oleh karena kehendak Allah kita diciptakan.

1.A.2. Memberkati kita merupakan kesukaan Allah. Mazmur 35 : 27 mengatakan bahwa Allah menginginkan keselamatan hamba-Nya. Keinginan Allah adalah untuk selalu memberikan semua yang terbaik demi kesejahteraan setiap umatNya.

1.A.3. Menempatkan kita dalam kerajaanNya merupakan kesukaan Allah. Lukas 12 : 32 berkata bahwa Allah ingin menempatkan umatNya di dalam kerajaanNya.

1.A.4. Memberikan tujuan hidup bagi kita adalah kesukaan Allah. Efesus 1 : 9 berkata bahwa Allah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita untuk menyatakan setiap tujuan kehidupan kita.


2. Hati yang Sehat Menentukan Bilamana Allah Melimpahkan KesukaanNya kepada Kita.


2.A. Keadaan hati kita dapat menghambat kesukaan Allah. 3 Yohanes 1 : 2 “ Saudaraku yang kekasih, aku berdoa semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja”. Allah menginginkan kehidupan yang baik terjadi bagi umatNya. Tetapi kesukaan Allah untuk memberkati kita dapat dihambat dengan keadaan hati kita. Hati yang sehat menghasilkan kehidupan yang sehat, hati yang lemah menghasilkan kehidupan yang lemah, hati yang negatif menghasilkan kehidupan yang negatif, hati yang penuh iman menghasilkan kehidupan yang dipenuhi dengan iman. Seorang pemimpin harus terus menerus menjaga hatinya seperti yang kita sudah bahas di Amsal 4 : 23 “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Terlebih lagi bila kita adalah seorang pemimpin.

2.B. Apa yang ada dalam hati dapat membentuk seluruh kehidupan kita. Firman juga mengajar di Lukas 6 : 45 “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya." Ini berarti apa yang ada di dalam hati itulah yang keluar dalam kehidupan kita. Bila kita merasa selalu tidak beruntung maka hal-hal buruk terus bisa terjadi seperti sakit penyakit, perceraian, kebangkrutan, atau kondisi keluarga yang berantakan. Sebaliknya bila terus berupaya memenuhi hati kita dengan firman Tuhan maka kita sudah memberikan asupan yang benar supaya hati kita mulai menghasilkan hal-hal yang baik. Amsal 23 : 7a “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.”

2.C. Gereja juga memiliki hati. Hati dari suatu gereja terletak pada para pemimpin dan atau orang-orang inti di dalam gereja. Jika hati dari gereja itu tidak tidak sehat dan dipenuhi dengan hal-hal negatif maka kehidupan gereja tersebut juga menjadi tidak sehat. Banyak gereja berpikir kesehatan gereja dapat ditunjang oleh berbagai program-program yang menarik seperti mengadakan seminar tentang pertumbuhan gereja. Mereka berpikir program-program gereja bisa diandalkan untuk mendukung perubahan yang diperlukan. Namun program semenarik apapun tidak akan berpengaruh bila hati gereja belum disehatkan terlebih dahulu. Oleh sebab itu, setiap pemimpin gereja perlu mengambil waktu dalam merefleksikan pengaruh hatinya pada kehidupannya sendiri. Para pemimpin perlu memastikan hati dan sikapnya sudah benar di hadapan Tuhan, dan setelah itu barulah mereka dapat mengembangkan pelayanannya. Hati seorang pemimpin gereja akan menentukan keadaan gerejanya. Apabila mereka menerapkan hal-hal yang benar, kehidupan gereja akan menjadi baik dan penuh damai sejahtera Tuhan.

3. Kunci-Kunci untuk Memiliki Hati yang Sehat.

Ada hal-hal yang dapat kita lakukan yang dapat membuat hati kita sehat dan condong pada kehidupan yang penuh percaya kepada Tuhan. Kita sudah tahu bahwa kesukaan Allah adalah untuk memberkati kita, memberikan kepada kita masa depan yang penuh harapan. Tugas kita sebagai seorang pemimpin adalah untuk mengalahkan kekalahan, keputus-asaan, ketidak-amanan, ketidak-mampuan, rasa bersalah diri, kesepian, kepahitan, penolakan, dan keluar sebagai pemenang dengan membangun hati yang sehat. Berikut adalah beberapa pedoman agar kita terus memiliki hati yang sehat.


3.A. Hati kita perlu belajar. Dalam Amsal 19 : 2 “Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah.” Dalam terjemahan bahasa Inggrisnya, ayat ini berkata bahwa tidak baik bila hati tidak diperlengkapi dengan pengetahuan. Banyak orang memiliki gelar psikologi, tapi dia sendiri mengkonsumsi obat anti depresi. Banyak orang memiliki gelar sekolah dalam ilmu komunikasi tetapi mengalami beberapa kali perceraian. Banyak orang memiliki gelar bisnis tetapi masih bergumul dengan keuangannya. Juga banyak pemimpin gereja memiliki gelar teologi tetapi masih tidak paham bagaimana cara melayani dan membangun gereja. Alasan utamanya adalah pikiran mereka memang terpelajar, tetapi hati mereka tidak ikut belajar. Oleh sebab itu sebagaimana pikiran kita belajar maka hati kita juga turut serta ikut belajar dan diubahkan oleh hal-hal yang kita pelajari, terlebih lagi saat kita mendalami firman Tuhan.

3.B. Hati kita harus tenang. Mazmur 62 : 6 “Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku.” Seringkali hati kita bergejolak dan mau berteriak. Hati kita mau menyuarakan rasa intimidasi, rasa rendah-diri, kemiskinan diri, ketidak-nyamanan, ketakutan, dan lainnya. Tetapi seorang pemimpin harus belajar mengambil otoritas atas gejolak hati tersebut dan mengajarkan hatinya untuk tenang dengan cara memuji dan memuliakan Tuhan. Inilah cara kita membangun hati yang sehat yang selalu siap melakukan kehendak Allah. Jikalau kita dapat belajar tinggal tenang dalam penantian akan pengharapan maka gejolak hati kita pun surut dan seluruh hidup kita jadi terkendali.

3.C. Hati kita harus memiliki tanggung jawab. Banyak orang mencari alasan atas semua ketidak-berhasilannya. Setiap orang pastinya bisa menemukan satu atau lebih alasan bila ia mencarinya. Kita bisa menyalahkan keluarga kita, denominasi gereja kita, pemerintah kita, dan sebagainya. Banyak orang suka melihat dirinya sebagai korban dari sesuatu atau seseorang. Tetapi seorang pemimpin perlu berhenti berdalih karena ia adalah seorang pemenang yang memiliki hati yang bertanggung jawab. Hati yang bertanggung jawab akan memampukannya menghadapi setiap tantangan dengan kekuatan kuasa Allah. Ini adalah bentuk hati yang bersedia memikul tanggung jawab.

3.D. Hati kita harus tertambat kepada Yesus. Dalam Ibrani 6 : 19 “Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir.” Seorang pemimpin yang ingin hidup dalam janji-janji Tuhan harus memiliki hati yang tertambat kepada Yesus. Ketika kita berada dalam masalah, Iblis selalu bekerja dengan membuat kita putus-asa. Namun setiap orang percaya memiliki pengharapan yang diibaratkan seperti sauh yang aman. Tuhan telah men-desain untuk selalu memiliki pengharapan kepadaNya. Jika kita kehilangan pengharapan, itu seperti kapal yang lepas dari tambatannya dan terombang ambing ke sana ke mari. Kita akan memiliki emosi yang tidak stabil. Dan karena pikiran kita dibentuk dari hati kita, maka pikiran kita tidak dapat berfungsi dengan benar. Pikiran kita akan dipenuhi dengan segala intimidasi akan kekalahan. Namun bila hati kita tertambatkan kepada pengharapan akan Tuhan, maka semua kehidupan kita bisa dibangun di atas pengharapan itu. Dengan hati yang tertambat inilah maka kita sebagai pemimpin dapat membangun pelayanan dan gereja Tuhan dengan kuasa Tuhan yang penuh.

3.E. Hati kita harus bermegah karena Tuhan. Mazmur 34 : 3 “Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.” Banyak pemimpin yang bermegah dan berbangga akan dirinya sendiri. Tetapi sebenarnya kemegahan dan kesombongan diri ini adalah hasil dari rasa ketidak-amanan diri. Mazmur 34 : 3 mengajarkan kita untuk bermegah semata-mata karena kita sudah mengetahui kebaikan Tuhan. Kita berbangga karena kepercayaan diri kita diletakkan di dalam Tuhan. Orang yang bermegah di dalam Tuhan tahu cara mengosongkan dirinya, mengakui bahwa tanpa Tuhan ia tidak memiliki kemampuan apapun. Sebagai seorang pemimpin, kita juga bermegah karena Tuhan telah memilih kita, dan Tuhan tidak pernah salah pilih. Rasa percaya diri kita berasal dari kekuatan Tuhan semata.



Bagian 3: Diskusi Kelompok.

1. Mengapa dikatakan hati dari sebuah gereja terletak pada pemimpinnya atau orang-orang inti? Jelaskan.


2. Jelaskan bagaimana pikiran seseorang bisa belajar, tetapi hatinya tidak ikut belajar? 3. Apakah Alkitabiah bila seorang pemimpin memiliki rasa percaya diri? Jelaskan.