Program Harvest International Curriculum


Trimester 4


Mengembangkan Kepemimpinan Sesi 2 dari 5



Topik Sesi 2: Kemurnian Hati Menentukan Hidup Kita.



Bagian 1 : Daftar Ayat Renungan.

Amsal 16 : 9 “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.”


Matius 5 : 8 “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”


Yakobus 1 : 22 “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.”


1 Yohanes 1 : 7-10 Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa. (8) Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. (9) Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. (10) Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.”


Bagian 2: Topik Kuliah.


Pendahuluan.

Kita memiliki kesempatan yang besar bila kita bisa bertumbuh menjadi seorang pemimpin. Tetapi hal yang paling indah yang dapat seseorang lakukan adalah bukan saja menjadi seorang pemimpin, tetapi menjadi seorang yang turut serta mengembangkan kepemimpinan di dalam kehidupan orang lain. Kita turut diberkati saat kita menyaksikan mereka bertumbuh dalam kehidupan dan kepemimpinan mereka. Di sesi ini kita akan mempelajari bahwa hal yang paling penting dalam kepemimpinan dimulai dari apa yang ada di dalam hati kita terlebih dahulu. Sebab apa yang ada di dalam hati menentukan arah kehidupan kita. Amsal 4 : 23 Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”


1. Prinsip Dasar Alkitabiah tentang Hati yang Murni.


1.A. Tuhanlah yang menentukan langkah kita.

1.A.1. Pastikan hati kita benar di hadapan Tuhan. Amsal 16 : 9 “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.” Ayat ini memiliki dua unsur, yang pertama adalah bagaimana seseorang bisa saja merancang jalan hidupnya. Tetapi unsur kedua menegaskan bahwa pada akhirnya Tuhan-lah yang menentukan arah langkahnya. Artinya meskipun kita ingin memaksakan rancangan kita sendiri, tetapi pada akhirnya rancangan Tuhan-lah yang terjadi. Apabila kita adalah seorang pemimpin, maka penting sekali bagi kita agar hati kita itu benar di hadapanNya senantiasa, supaya kita tidak lagi memaksakan rancangan kita sendiri. Saat hati kita benar, maka apapun yang kita rancangkan itu pasti sejalan dengan rancangan Tuhan dalam hidup kita. Kita percaya Tuhan selalu rindu memberkati kita di manapun kita berada agar kita menjadi pemimpin yang membawa dampak bagi sekeliling kita. Tetapi semua berkat dan tuntunan Tuhan ini dimulai oleh apa yang ada di dalam hati kita terlebih dahulu.

1.A.2. Keadaan jiwa kita menentukan kualitas kehidupan kita. 3 Yohanes 1 : 2 “Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.” Bila jiwa kita penuh damai sejahtera maka tentunya seluruh hidup kita menjadi baik dan sehat pula. Dan keadaan jiwa kita tergantung dari bagaimana keadaan hati kita di hadapan Tuhan.

1.A.3. Kita butuh firman Tuhan untuk memastikan hati kita baik. Begitu banyak hal-hal di dunia yang selalu ingin menguasai hati kita dan menajiskannya, apa lagi bila kita adalah seorang pemimpin. Tetapi firman Tuhan sanggup melindungi hati kita tersebut dari segala bentuk pengaruh yang tidak baik, memastikan kemurniannya di hadapan Tuhan.


1.B. Orang yang murni hatinya adalah orang yang diberkati. Matius 5 : 8 Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” Seorang pemimpin harus dapat melihat apa yang menjadi rancangan Tuhan dalam pelayanannya. Tetapi kita hanya dapat melihat rencana Tuhan dari hati yang murni. Jika kita mengijinkan firman Tuhan masuk dan menyucikan hati kita, maka pada saat itulah kita dapat berjumpa dengan Tuhan dan melihat rencana dan tujuanNya dengan baik. Sebaliknya tanpa kemurnian hati maka rancanganNya dalam hidup kita akan sulit terlihat jelas. Dalam terjemahan lainnya, Matius 5 : 8 mengatakan apabila internal kita yang adalah hati dan pikiran kita baik dan benar, maka kita bisa melihat eksternal kita yaitu Tuhan. Seorang pemimpin cenderung lebih menekankan hal-hal eksternal dahulu. Tetapi Tuhan lebih memprioritaskan hal-hal dari dalam hati ketimbang hal eksternal.


1.C. Firman Tuhan harus berdampak pada hati kita. Ada pemimpin-pemimpin yang sering berkhotbah tapi khotbahnya sendiri belum tentu memberi dampak dalam kehidupannya. Pemipin tersebut belum memiliki buah-buah yang dapat memberikan pengaruh ke dunia. Yakobus 1 : 21-26 Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. (22) Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. (23) Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin.(24) Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. (25) Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.(26) Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.” Dari ayat-ayat firman ini kita bisa pelajari sebagai berikut:

1.C.1. Jika Firman Allah tertanam dalam hati kita maka kita seharusnya menyatu dengan firman (ayat 21). Perhatikan bagaimana sikap hati kita pada firman selama ini. Alkitab mengajar hanya firman yang sanggup menyelamatkan jiwa kita dan memperbaharui hati kita yang lama. Bila demikian adanya, apakah sebagai seorang pemimpin selama ini kita sudah datang kepada firman itu dan menyerahkan hati kita ke dalamnya?

1.C.2. Jika kita bukan pelaku firman, maka kita sedang menipu diri sendiri (ayat 22). Semua orang percaya yang mendengarkan dan memperkatakan firman harus pula menjadi pelaku firman, apa lagi bila ia adalah seorang pemimpin. Jadi jika kita berkotbah dan kotbah kita itu belum mentransformasikan hati kita kepada kebenaran, maka sebenarnya kita sedang menipu diri sendiri.

1.C.3. Apa yang ada dalam hati seseorang akan menentukan kualitas kehidupannya (ayat 26). Banyak pemimpin mengaku ia suka beribadah, tetapi ucapan mulutnya berlawanan dengan sikap ibadahnya. Apa yang memenuhi pikiran kita itu sangat tergantung dari apa yang ada dalam hati kita. Emosi kita keluar dari apa yang ada dari dalam hati kita. Kemampuan kita untuk membuat keputusan juga berhubungan dengan apa yang ada dalam hati kita. Oleh sebab itu, jangan sampai kita menipu diri kita sendiri lagi. Ada banyak hal-hal di dalam hati kita yang membuat kita menipu diri sendiri, contohnya:

1. Akar pahit atau ketidak-pengampunan.

2. Tinggi hati.

3. Mementingkan diri sendiri.

4. Ambisi yang tidak terkendali.

5. Cinta uang, yang adalah akar dari segala kejahatan.

Jika hal-hal tersebut masih tersimpan di dalam hati kita dan kita menganggapnya itu suatu kewajaran, maka kita sebenarnya sedang menipu diri kita sendiri. Kita butuh firman Allah yang harus dicangkokkan ke dalam hati kita agar kita diubahkan olehnya. Jangan menunda waktu untuk melakukan ini, setiap pemimpin harus lekas selesaikan semua ketidak-murnian hatinya. Ada kisah seorang raja di Yehuda bernama Amazia. Ia adalah seorang raja yang perkasa. Tetapi di 2 Tawarikh 25 : 2 dikatakan “Amazia melakukan yang benar di hadapan TUHAN, tetapi tidak dengan segenap hatinya.” Amazia memang melakukan hal-hal yang benar, tetapi ia tidak melakukannya dengan ketulusan. Pada akhirnya apa yang ada dalam hatinya merusak kehidupannya, sehingga ia menjadi raja penyembah berhala yang sombong dan menolak teguran dari nabi Tuhan.


1.D. Hati kita harus ada dalam terang Kristus. 1 Yohanes 1 : 7-10 Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa. (8) Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. (9) Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. (10) Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.”

1.D.1. Bila kita ada dalam terang Kristus maka kita harus mengijinkan Tuhan menyelesaikan segala akar masalah yang selama ini bersarang di dalam hati kita. Sebagai seorang pemimpin bisa saja kita terlihat memiliki pelayanan yang bertumbuh pesat. Tetapi kita tidak dapat bersembunyi di belakang pelayanan kita tersebut selamanya. Tanpa penyelesaian hati yang tuntas, maka sehebat apapun pelayanan kita maka tetap saja tidak akan ada perubahan yang berarti di dalam hati kita.

1.D.2. Hanya dalam terang Kristus kita ada dalam persekutuan antara satu sama lain (ayat 7). Persekutuan kita satu dengan lainnya tidak dapat dibangun jika masing-masing kita memiliki agenda yang tersembunyi di dalam hati. Dalam hal ini seorang pemimpin yang hatinya tidak diterangi Kristus tidak dapat membangun hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.

1.D.3. Di luar terang Kristus kita tidak memiliki kebenaran (ayat 8). Dalam terang Kristus kita harus terus hidup dalam pertobatan setiap hari. Saat kita sudah merasa benar maka di situlah kita sudah mulai menipu diri sendiri, dan kita pastinya akan kehilangan arah hidup. Di situ kita akan keluar dari hidup penuh berkat, di mana Allah telah panggil kita untuk masuk ke dalamnya. Semua ini bisa dipicu saat kita mengaku bahwa kita tidak memiliki dosa, dengan kata lain kita sedang berkata bahwa kepahitan, kemarahan, cinta uang, dan ambisi bukanlah dosa. Kita lalu mencoba membenarkan diri sendiri dalam dosa kita tersebut. Seringkali dosa itu dimulai dari hal-hal kecil yang kita anggap sepele, tetapi hal-hal kecil dalam hati kita inilah pada akhirnya dapat mempengaruhi seluruh hidup kita. Ada banyak pelayanan para pemimpin yang hancur karena kurang berhati-hati dalam hal menjaga kemurnian hati. Mungkin mereka awalnya memiliki masalah yang bermula seperti akar pahit. Setiap akar pahit memang tidak langsung memberi dampak besar, dan bisa terus tersimpan selama bertahun-tahun. Tetapi pada saat akar kepahitan itu muncul, maka kepahitan itu bisa meledak dan menghancurkan banyak orang.

1.D.4. Tanpa pengakuan dosa maka kita menuduh Kristus sebagai pendusta (ayat 10). Jika kita berkata kita tidak berdosa maka kita membuat Yesus menjadi pendusta dan firmanNya tidak ada di dalam kita. Dalam kesaksiannya, Pastor Brian Houston berkisah ia mempunyai 400 murid sekolah alkitab. Saat memulai studinya, salah seorang muridnya berkata bahwa Tuhan telah memanggilnya untuk mengikuti sekolah alkitab. Pada awalnya dia sangat antusias dan tidak sabar untuk memulai kelas. Tetapi setelah 2 bulan mengikuti kelas, dia mulai menghadapi berbagai kesulitan dan sekarang dia berkata bahwa Tuhan menyuruh dia berhenti dan meninggalkan sekolah Alkitabnya. Jadi manakah pesan Tuhan yang benar, pesan yang pertama atau yang kedua? Si murid ini sebenarnya hidup dalam pesan-pesan Tuhan yang saling bertentangan yang diakibatkan oleh keadaan hatinya. Raja Daud pernah berdoa mengenai ini dalam Mazmur 51 : 12 “Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!” Dalam kemurnian hati maka pesan Tuhan tidak lagi menjadi saling bertentangan.


2. Dampak dari Hati yang Tertipu oleh Ketidak-Murnian.

Berikut adalah beberapa dampak dari para pemimpin yang masih belum memiliki kemurnian hati, yaitu para pemimpin yang terus menerus masih menipu diri sendiri.

2.A. Hidup memberikan tanda-tanda yang membingungkan. Ia bisa saja mengatakan sesuatu hal tapi pada akhirnya ia melakukan hal yang bertentangan.

2.B. Ia berkelakuan seperti seorang penipu. Ia berkata-kata dengan tegas di hadapan seseorang, tetapi kemudian tindakannya berbeda saat orang itu tidak ada di hadapannya.

2.C. Ia tidak mau mendengar nasihat orang lain. Sekali hatinya sudah tertipu, maka ia pun tidak mau mendengar nasihat orang lain lagi. Ia sudah berpendapat bahwa semua orang itu salah.

2.D. Ia menghindari orang yang menentang pemikirannya.

2.E. Ia lebih senang mencari teman yang sepaham dengannya saja, meskipun orang tersebut kurang mengerti keadaan yang sebenarnya.

2.F. Ia merasa tidak seorangpun dapat mengerti kondisi keadaannya.

2.G. Ia gagal untuk naik ke level berikutnya.


Penutup.

Sesungguhnya Tuhan ingin kita mengalami kemajuan kehidupan kerohanian dan masuk ke dalam berkatNya. Satu-satunya cara untuk menerima kemajuan kerohanian adalah dengan menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan. Dari hati kita itulah mengalir keluar aliran-aliran air hidup. Mungkin dahulu kita adalah seorang pemimpin yang masih sering mencoba merancang jalan hidup kita sendiri. Tetapi sekarang biarkan firman Allah menguji dahulu apa yang ada dalam hati kita dan mengubahnya, supaya kita dapat menjadi seorang pemimpin yang langkah-langkahnya dituntun olehNya. Setelah itulah barulah kita dapat membantu membangkitkan potensi kepemimpinan orang lain dengan cara memberikan rencana dan tujuan Allah kepadanya.



Bagian 3: Diskusi Kelompok.

1. Sebutkan kembali prinsip-prinsip dasar Alkitab tentang hati yang murni.


2. Mengapa memiliki hati yang murni itu mutlak bagi seorang pemimpin di dalam Kerajaan Allah?


3. Apakah anda pernah tertipu oleh ketidak murnian hati? Jelaskan.