Program Harvest International Curriculum

Trimester 3

Pemegang Janji Sesi 1 dari 1


Topik Sesi 1:



Bagian 1: Daftar Ayat Renungan.

Amsal 22 : 1 “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.”


Efesus 5 : 22 “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,


Efesus 5 : 25 “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya”


Yohanes 14 : 6 “Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”



Bagian 2: Topik Kuliah.


Pendahuluan.

Doktor Edwin Cole adalah pendiri ministri Christian Men’s Network. Ia mengarang banyak buku dan berkhotbah tentang hubungan antara pria dan agama. Ia adalah juga seorang gembala dari sebuah gereja di Utara California. Ia juga melakukan banyak perjalanan misi, penginjilan, dan program televisi Kristiani.


1. Kebenaran adalah Dasar dari Kehidupan Kita.

Yohanes 14 : 6 berkata “Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Ayat ini menjelaskan 3 unsur, yaitu jalan, kebenaran, dan hidup. Antara ketiganya ini kebenaran adalah dasarnya. Artinya kebenaran harusnya yang menjadi dasar “jalan” dan dasar dari “hidup.” Semakin hidup kita didasari kepada kebenaran, maka baik jalan kita dan hidup kita akan semakin baik. Apabila kita membangun kehidupan kita berdasarkan kebohongan atau dusta, maka jalan hidup dan hidup kita akan semakin sulit. Yesaya 59 : 14 “Hukum telah terdesak ke belakang, dan keadilan berdiri jauh-jauh, sebab kebenaran tersandung di tempat umum dan ketulusan ditolak orang.” Pada jaman Yesaya, orang-orang menolak kebenaran. Saat kebenaran ditolak, maka tidak ada suatu kepastian yang mendasari kehidupan orang-orang. Yesus mengatakan dalam Yohanes 10 : 10b bahwa Ia datang supaya hidup kita berkelimpahan. Yesus adalah kebenaran, dan kebenaran ini yang seharusnya menjadi dasar dari hidup yang kita miliki. Saat kita hidup dalam kebenaran, maka jalan hidup kita akan menjadi mudah, beban kita menjadi ringan, dan kita akan menikmati hidup yang berkelimpahan. Ada 5 hal penting tentang Firman Tuhan yang kita bisa pelajari:

1.A. Firman mengikat Tuhan dalam perjanjianNya dengan kita. Ibrani 6 : 13 “Sebab ketika Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari pada-Nya.”Tuhan mengikat perjanjian antara diriNya dengan Abraham di dalam FirmanNya.

1.B. Firman adalah ekspresi dari keberadaan Allah. Dalam Ibrani 1 : 3 “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,” Ketika Yesus datang ke dunia, Ia datang sebagai Tuhan dalam tubuh manusia. Yesus mengekspresikan ke-Allahan-nya dalam bentuk perkataanNya melalui FirmanNya.

1.C. Firman Tuhan menyatakan karakter kekekalan Allah. Dalam Wahyu 1 : 8 “Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa." Alfa adalah huruf pertama dan Omega adalah huruf terakhir dari alfabet Yunani. Artinya Yesus adalah satu-satunya Allah yang benar, yang sudah ada sejak kekal hingga kekekalan. Ia selalu ada dan akan terus ada.

1.D. Firman Tuhan setara dengan namaNya. Dalam Mazmur 138 : 2 “Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu.” Yesus adalah Firman itu sendiri. Kita menggunakan nama Yesus saat berdoa, meminta berkat, kesembuhan, atau mujizat. Dan saat kuasa turun, itu membuktikan bahwa kuasa nama Yesus itu setara dengan kuasa FirmanNya.

1.E. Firman Tuhan adalah sumber iman dan satu-satunya sumber penuntun tingkah laku kita. Ulangan 8 : 3 “Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.” Matius 4 : 4 “Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." Tanpa Firman, maka iman tidak mungkin ada. Tanpa Firman juga maka manusia tidak bisa hidup dengan benar.


2. Tanggung Jawab Pemegang Janji.

Kejadian 1 : 26-27 “Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.’ Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”

Sebagaimana Allah mencipta segala sesuatu di alam semesta dengan kreatif, maka manusia juga diberikan kemampuan dalam suatu kapasitas sebagai pemegang janji Allah, untuk juga memiliki kuasa mencipta kreatif. Doktor Cole bersaksi saat ia bertemu dengan istrinya dan akhirnya menikah. Dari yang sebelumnya tidak ada maka saat pemberkatan pernikahan terjadilah sebuah perkataan janji yang diucapkan. Dalam pengucapan perjanjian pernikahan tersebut, mereka lalu menjadi satu daging. Dengan anugerah kuasa penciptaan kreatif ini Doktor Cole diberikan kemampuan untuk membuahi istrinya sehingga istrinya bisa mengandung dan melahirkan seorang anak, sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Dan setiap anak yang lahir dari seorang wanita itu adalah manusia yang memiliki gambar dan rupa dari Allah. Berarti dimulai dari Firman Allah, maka manusia bisa mengucapkan perkataan janji setia pernikahan, sehingga sesuatu yang tidak pernah ada sekarang menjadi sesuatu yang ada, dan bahkan Doktor Cole lalu dikaruniai 3 orang anak. Dan dasar dari semua ini adalah sesuatu yang tidak kelihatan dalam hati mereka, yang dinamakan kasih.

Dalam janji setia pernikahan di hadapan Allah baik suami dan istri bersama-sama bersedia untuk memberikan pertanggung jawaban atas pernikahan mereka. Mereka dituntut untuk menghormati janji setia pernikahan tersebut. Allah akan meminta pertanggung-jawaban terutama kepada setiap suami sebagai kepala keluarga, dan juga kepada setiap istri, untuk setiap anak yang lahir melalui mereka di dunia ini.

Kesemuanya ini dimulai dari janji Allah kepada manusia, yang telah diciptakan dalam gambar dan rupa Allah sendiri. Allah telah mengutarakan janjiNya kepada manusia melalui FirmanNya, dan Allah selalu menggenapi janji-janji tersebut. Karena itu maka manusia juga harus melakukan hal yang sama tentang janji-janjinya sendiri. Mari kita sekarang membuat persamaan bagaimana cara kita memegang janji kita sebagaimana Allah memegang janjiNya melalui FirmanNya. Di bagian pertama kita telah membahas ada 5 hal utama tentang Firman Allah. Kita akan membandingkan 5 hal tersebut dengan bagaimana kita memegang janji-janji kita.

2.A. Firman mengikat Tuhan dalam perjanjianNya dengan kita. Sebagaimana Allah mengikat diriNya dengan janjiNya, maka demikian juga kita harus mengikat diri kita kepada janji-janji yang kita telah utarakan. Setiap janji yang kita utarakan itu harus mengikat. Setiap kali Allah memberikan janjiNya maka Allah juga menyertainya dengan suatu tanda. Saat kita memberikan janji, kita juga memberikan tanda, misalnya dengan berjabat tangan. Saat kita berjabatan tangan maka kita memberikan komitmen kita pada janji-janji kita.

2.B. Firman adalah ekspresi dari keberadaan Allah. Sebagaimana perkataan Allah mengekspresikan siapa Allah itu, maka semua perkataan yang keluar dari mulut kita juga mengekspresikan siapa kita sesungguhnya. Banyak orang suka memperkatakan hal-hal yang sia-sia, atau bahkan ucapan yang kotor. Tentunya perkataan ini langsung merefleksikan siapa kita sesungguhnya.

2.C. Firman Tuhan menyatakan karakter kekekalan Allah. Bagaimana cara kita memegang janji-janji kita, maka ini juga akan menyatakan karakter kita yang sesungguhnya. Misalnya seorang suami berjanji kepada istrinya atau istri berjanji kepada suaminya. Menepati setengah dari janji itu sama dengan menepati kebohongan. Lalu bila ia memberikan janji lainnya yang tidak dipenuhi lagi, maka lama-kelamaan janji-janji ini akan menumpuk begitu banyak sehingga ia sedang mengajarkan kepada pasangannya untuk tidak mempercayainya.

2.D. Firman Tuhan setara dengan namaNya. Ini dapat digambarkan dalam situasi janji pernikahan. Dalam janji pernikahan, suami dan istri menyebutkan nama mereka masing-masing saat berjanji. Nama mereka masing-masing haruslah setara dengan janji setia mereka. Bila ada yang tidak menepati janjinya maka nama mereka itu menjadi tidak terhormat, mendatangkan hal-hal yang memalukan dirinya sendiri. Efesus 5 : 22 “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,” dan Efesus 5 : 25 “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya”. Isteri akan sulit untuk menundukkan diri kepada suami apabila ia tidak menghormati suaminya, sebagaimana suami sulit mengasihi istri yang ia tidak hormati. Di Amerika, penyebab utama perceraian adalah hilangnya rasa hormat tersebut. Dan penyebab utama hilangnya rasa hormat adalah ketika masing-masing tidak menepati janjinya kepada pasangannya. Demikianlah kita bisa simpulkan bahwa nama kita itu hanya sebaik bagaimana kita menepati janji-janji kita.

2.E. Firman Tuhan adalah sumber iman dan satu-satunya sumber penuntun tingkah laku kita. Janji-janji kita adalah satu-satunya cara orang lain mempercayai kita, dan satu-satunya yang menuntun kehidupan kita di tengah orang-orang lain. Ketika kita memberikan sebuah janji kepada orang lain, itu seolah-olah menjadi sumber iman mereka terhadap kita. Mereka akan mengambil sikap sesuai dengan apa yang kita telah janjikan. Bila apa yang kita lakukan tidak benar, maka mereka akan kehilangan kepercayaannya kepada kita.


Penutup

Doktor Cole mengisahkan bahwa salah satu jemaatnya bersaksi, ia kehilangan bisnisnya karena ia tidak bisa menepati janjinya kepada para pelanggannya sehingga bisnisnya hancur. Pelanggannya kehilangan kepercayaan kepadanya. Kesaksian lain dari seorang gembala dari sebuah gereja yang tidak berkembang, di mana istri dan anak-anaknya juga tidak mau datang ke gerejanya. Ia akhirnya menyadari bahwa hal ini diakibatkan ia sering tidak menepati janji kepada istri dan anak-anaknya sehingga mereka hilang kepercayaan kepadanya dan juga kepada Tuhan.

Bila kita mengklaim mengenal dan menerima janji Tuhan maka mutlak kita harus menepati janji-janji kita sendiri kepada orang lain. Apabila kita adalah seorang Hamba Tuhan, kita sedang mewakili Allah karena kita sedang membawa firman Tuhan kepada orang-orang lain. Dan saat kita memberikan janji kita kepada seseorang, kita sedang membangun kepercayaan dari orang tersebut bukan saja kepada kita, tetapi juga kepada Tuhan. Apabila kita tidak menepati janji, orang tersebut bukan saja bisa kehilangan kepercayaannya atas kita, tetapi lebih buruk lagi orang tersebut bahkan bisa kehilangan imannya kepada Tuhan. Firman Tuhan bagi kita itu murni dan kudus. Dengan demikian janji-janji kita kepada orang lain juga haruslah murni dan kudus. Doktor Cole bersaksi, bahwa dalam pelayanannya yang sudah lebih dari 50 tahun, ia menyaksikan kegagalan dari hamba-hamba Tuhan dimulai dari kegagalan mereka menepati janji-janji mereka sendiri. Oleh karena itu, jadilah pelaku firman dan jangan menjadi batu sandungan bagi orang lain yang bisa menyebabkan orang kehilangan imannya kepada Tuhan.


Bagian 3: Diskusi kelompok.

1. Jelaskan kembali dengan kata-kata anda sendiri, mengapa kita sebagai pemegang janji Tuhan mutlak harus menepati janji-janji kita juga kepada orang lain.


2. Ada 5 hal yang dibahas mengenai Allah dengan FirmanNya yang dibandingkan dengan kita dengan janji-janji kita. Poin yang mana yang menurut anda paling berkesan kepada anda secara pribadi?