Program Harvest International Curriculum

Trimester 3

Dipimpin oleh Roh Kudus Sesi 4 dari 5


Topik Sesi 4: Prioritas Hidup.



Bagian 1 : Daftar Ayat Renungan.

Ulangan 30 : 19-20“Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka."


1 Timotius 3 : 4-5 “Seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya.

Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?”


2 Timotius 4 : 5 “Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!”


Markus 6 : 31 “Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!’ Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat.”



Bagian 2: Topik Kuliah.


Pendahuluan.

Dalam sesi ini kita akan membahas tentang prioritas dalam kehidupan. Jika dalam kehidupan ini kita memiliki prioritas yang sesuai dengan Alkitab maka itu akan menolong kita untuk membuat keputusan yang benar. Jika prioritas kita berantakan maka kita akan memiliki masalah dalam hidup dan juga pelayanan kita. Prioritas disusun berdasarkan hal yang paling penting. Banyak dari kita menempatkan pelayanan atau bahkan rekreasi dan olahraga sebagai prioritas utama. Ada juga yang menempatkan istri atau anak-anak sebagai prioritas utama. Mari kita belajar prioritas yang sesuai dengan alkitab:

1. Prioritas 1: Hubungan pribadi dengan Tuhan.

2. Prioritas 2: Keluarga.

3. Prioritas 3: Pekerjaan atau Pelayanan.

4. Prioritas 4: Istirahat dan Rekreasi.

Jika salah satu prioritas tersebut di atas berpindah tempat maka masalah akan timbul. Contohnya, saat Hawa menempatkan materi di atas rohani dan Adam menempatkan istrinya di atas Allah, maka kita bisa lihat apa yang terjadi setelah itu. Manusia jatuh ke dalam dosa dan dunia berada di bawah kuasa si jahat. Kita tahu Allah kita adalah Allah yang teratur, Allah yang memiliki peraturan-peraturan yang spesifik dalam melakukan segala sesuatu. Jika kita dapat mengatur dan melaksanakan prioritas menurut pola dan prinsip-prinsip Alkitab, kita bisa menghindari masalah di dalam kehidupan juga pelayanan kita. Banyak hamba Tuhan yang mengalami kehancuran karena prioritas mereka berantakan. Mereka menempatkan pelayanan di atas keluarga dan tidak mengambil waktu untuk hubungan pribadi mereka dengan Tuhan.


1. Prioritas Pertama: Hubungan Pribadi dengan Allah.

Ulangan 30 : 19-20 berkata “ Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka."

Banyak orang yang tidak mengerti atau bahkan menyalah-artikan hubungan pribadi dengan Tuhan. Pelayanan gereja, berkhotbah, bahkan berdoa untuk mempelajari Firman Tuhan dalam mempersiapkan khotbah atau pengajaran bukanlah merupakan hubungan pribadi kita dengan Allah. Hubungan pribadi dengan Allah adalah persahabatan dan persekutuan kita dengan Allah, masuk dalam hadirat Tuhan, berdoa dan menyembah, dan waktu yang kita berikan untuk mempelajari Firman Tuhan untuk lebih lagi mengenal Allah. Itulah priorias utama dalam hidup kita. Persekutuan intim kita dengan Allah melalui doa dan Firman harus menjadi yang terutama.

Semua pelayanan kita adalah hasil dari pertumbuhan dari hubungan pribadi kita dengan Allah. Dalam Yohanes 15 : 4-5 dijelaskan bahwa Yesus adalah pokok anggur dan kita adalah ranting-rantingnya. Hanya dengan tinggal di dalam Yesus, kita bisa berbuah. Kita harus memelihara persekutuan yang intim dengan Allah. Markus 3 : 13-15 “Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan merekapun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan.” Yesus menetapkan dahulu murid-muridNya, dan setelah itu barulah Ia mengutus mereka untuk memberitakan Injil. Kita memang dipanggil untuk memberitakan Injil, menyembuhkan orang, mengusir setan. Tetapi pertama-tama kita dipanggil untuk bersama-sama dengan Dia. Filipi 3 : 10 “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,”. Artinya kita harus mengenal Allah terlebih dahulu sebelum mengenal kuasaNya. Tetapi kita terkadang terlalu sibuk untuk pekerjaan Tuhan, tidak memiliki waktu intim bersama dengan Tuhan. Lukas 10 : 38-42 mengisahkan perbedaan antara Maria dan Martha. Maria memilih untuk duduk dekat kaki Yesus dan mendengarkan segala perkataanNya, sedangkan Martha memilih untuk sibuk melayani. Dari kisah ini, Maria telah mengambil prioritas yang tepat. Apa yang dilakukan Martha itu baik namun sayangnya Martha tidak mengambil waktu untuk duduk bersama Yesus. Kita harus memilih untuk mengambil waktu bersekutu dengan Tuhan. Bila kita jauh dari Tuhan pelayanan kita tidak bisa efektif.

Pastor Bayless Conley memberikan analogi sebagai berikut. Saat beliau isi bensin, ia tidak sabar menunggu sampai tanki bensinnya penuh. Oleh karena itu, biasanya ia akan mengisi bensinnya sedikit saja supaya tidak terlalu lama menunggu di pom bensin. Dan Roh Kudus berbicara kepadanya mengatakan bahwa ia melakukan hal yang sama dengan Tuhan. Ia masuk dalam hadirat Tuhan tetapi selalu terburu-buru, sehingga seringkali kehabisan bensin rohani di tengah pelayanan. Roh Kudus mengingatkan beliau untuk memiliki waktu bersekutu bersama dengan Tuhan.


2. Prioritas Kedua: Keluarga. Prioritas keluarga dapat dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu:

2.A. Pasangan (suami-istri). Posisi pasangan terletak setelah hubungan pribadi dengan Allah tetapi sebelum anak-anak. Kejadian 2 : 18 “TUHAN Allah berfirman: ‘Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.’” Pasangan kitalah yang melengkapi kita, bukan pelayanan kita. Tetapi banyak orang berpendapat pelayanan atau pekerjaan harus diutamakan daripada pasangan. Ini adalah pendapat yang keliru. Pelayanan adalah melayani orang-orang, jadi pasangan kita adalah pelayanan yang pertama. Seperti dikatakan dalam 1 Timotius 3 : 1-5 “Benarlah perkataan ini: ‘Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah." Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang, bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang, seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?” Ayat ini mengajarkan keluarga lebih prioritas daripada pelayanan atau pekerjaan kita. Jika kita tidak bisa memelihara dan mengasihi keluarga kita, bagaimana kita bisa mengurus keluarga Allah dan mengasihi mempelai Kristus? Banyak hamba Tuhan yang begitu sibuk mengurus kebutuhan orang lain tetapi pasangan sendiri diterlantarkan. Pasangan kita itu lebih penting daripada orang lain. Saat kita tidak memperhatikan atau meluangkan waktu untuk pasangan kita karena kesibukan pelayanan atau pekerjaan, iblis bisa masuk ke dan berusaha menghancurkan rumah tangga kita. Pasangan kita adalah orang nomor dua setelah Tuhan. Pasangan kita terletak di atas dari semua orang-orang dalam pelayanan. Idealnya, suami istri haruslah satu tim dalam melayani. Kita tidak akan bisa melayani secara efektif apabila hubungan dengan pasangan tidak baik. Pastor Bayless Conley bersaksi tentang saat ia baru menikah beberapa tahun dan sedang bertengkar. Saat itu ia mengendarai mobil dan ia mendiamkan istrinya, seolah-olah tidak ada di dalam mobil. Dan Roh Kudus mengingatkan beliau untuk tidak melakukan hal itu karena apabila ia tidak dalam persekutuan dengan istrinya, ia juga akan sulit untuk bersekutu dengan Roh Kudus. Setelah itu segera mereka saling memaafkan.

2.B. Anak-anak. Anak-anak adalah ladang misi pertama kita atau gereja pertama kita. Penting bagi kita meluangkan waktu bersama dengan anak-anak kita. Kembali ke 1 Timotius 3 : 1-5 dikatakan keluarga seorang hamba Tuhan harus memiliki hidup teratur terlebih dahulu sebelum ia memenuhi syarat untuk melayani orang lain. Mengapa banyak ditemukan kasus anak-anak yang memiliki kepahitan terhadap Tuhan dan terhadap gereja? Alasannya seringkali karena orang tua mereka memiliki waktu bagi orang lain namun tidak pernah memiliki waktu bersama mereka. 1 Samuel 2 : 22-36 menceritakan tentang anak-anak Imam Eli. Anak-anak ini tidak mengenal Tuhan. Bahkan Imam Eli sendiri tidak bisa mengendalikan anak-anaknya. Berbeda dengan Samuel, yang saat itu masih muda dan tinggal bersama Imam Eli. Ia mengenal Tuhan dan menyembah Tuhan. Namun dalam 1 Samuel 8 anak-anak Samuel pun juga tidak mengikuti jejak Samuel. Kita bisa mengambil kesimpulan di sini bahwa kedua tokoh ini tidak pernah mengambil waktu untuk anak-anak mereka. Kita bisa saja menjadi orang hebat, pengkhotbah yang menyala-nyala, tetapi jika kita tidak meluangkan waktu untuk bersama keluarga, maka semuanya itu bisa hancur.

Pastor Bayless Conley bersaksi bahwa ia baru saja diundang untuk menjadi pembicara utama dalam KKR besar di gereja kedua terbesar di Afrika. Tapi undangan tersebut bersamaan waktunya dengan hari di mana ia sudah berjanji untuk berlibur dengan keluarganya. Ia tidak perlu berdoa lagi dan langsung menolak undangan tersebut karena sudah berjanji dengan keluarganya. Ia tidak mau kehilangan keluarganya. Ia mengambil keputusan sesuai dengan prioritas yang alkitabiah.

Kemudian Pastor Bayless juga bersaksi, saat beliau membuat program televisi ia harus datang ke studio TV setiap hari sehingga seringkali anak-anaknya merindukan kebersamaan mereka. Akhirnya ia memutuskan untuk membeli peralatan studio dan meletakkannya di gereja sehingga pembuatan program bisa dilakukan di gereja. Kemudian ia juga mengatur segala sesuatunya sehingga akhirnya ia bisa mengambil 1 tahun penuh untuk bisa bersama anaknya. Ini adalah keputusan yang tidak pernah ia sesali.


3. Prioritas Ketiga: Pelayanan atau Pekerjaan.

2 Timotius 4 : 5 “Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!” Juga dalam Kolose 4 : 17 dikatakan jika kita dipanggil untuk pelayanan lakukanlah dengan sungguh-sungguh, tunaikanlah tugasmu. Pelayanan berarti bekerja bersama-sama dengan Allah untuk mengubah kehidupan dan tujuan hidup manusia. Pelayanan bisa dibagi menjadi 3 area:

3.A. Berdoa dan mempelajari Firman Tuhan. Kita harus mengambil waktu berdoa dan mempelajari Firman Tuhan agar mendapatkan pesan yang segar dari Allah untuk memberi makan domba-domba Allah. Kita juga harus mendengarkan apa yang Roh Kudus katakan sehingga perkataan Allah masuk ke dalam hati jemaat Tuhan.

3.B. Kebersamaan dengan para pemimpin dan orang-orang yang membantu. Kita harus mengambil waktu bersama para pemimpin kita. Yesus memiliki pola dalam kehidupannya dengan meluangkan waktu untuk 3 murid terdekatNya yaitu Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Lalu Yesus juga mengambil waktu untuk 12 muridNya sebagai lingkaran orang terdekatNya. Kemudian kelompok 70 murid adalah lingkaran yang berikutnya. Setelah itu lingkaran berikutnya adalah orang banyak. Kita harus meluangkan waktu dengan para pemimpin gereja kita, setelah itu barulah kita melayani jemaat dan berdoa bagi mereka. Kita harus tersedia bagi jemaat dan jemaat harus bisa menghubungi kita.

3.C. Pelayanan dan pekerjaan. 1 Petrus 5 : 2-3 “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu.” Hamba Tuhan tidak pernah dipanggil untuk menjadi diktator. Mereka memang harus membuat keputusan, memimpin, harus kuat, namun cara mereka memimpin bukanlah dengan memberi perintah-perintah, tetapi dengan memberikan contoh dengan menggembalakan dan menjadi teladan bagi domba-dombanya. Jangan lupakan juga bahwa bagi kita orang-orang yang dipanggil oleh Tuhan, pekerjaan kita juga adalah salah satu bentuk pelayanan. Efesus 6 : 5 “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, 6 jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, 7 dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.” Sesuai Firman di atas maka dalam bekerja setiap kita memiliki kesempatan untuk melakukan pelayanan juga.


4. Istirahat dan Rekreasi.

Markus 6 : 31 “Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!’ Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat.”

4.A. Ambil waktu untuk beristirahat. Pelayanan bisa begitu menyibukkan karena ada banyak hal yang terjadi, banyak orang yang membutuhkan pertolongan hingga bisa saja kita menghabiskan seluruh hari setiap hari dalam kegiatan pelayanan, namun tetap saja masih ada yang belum sempat dilayani. Ada saat ketika Yesus berkata kepada kita untuk beristirahat sejenak. Kita tidak bisa terus hidup dengan demikian sibuk karena tubuh kita akan menjadi lemah, dan memaksa kita untuk beristirahat. Maka ambillah waktu untuk beristirahat.

4.B. Ambil waktu untuk rekreasi dan berolah raga. 1 Timotius 4 : 8 “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” Lakukan sesuatu yang berguna bagi tubuh kita seperti berolah raga dan rekreasi. Ini akan menolong menjernihkan pikiran kita. Jika tidak, tubuh kita menjadi lemah dan sakit. Lakukanlah dengan seimbang bersama-sama dengan pelayanan kita. Dalam hal ini kita dituntut untuk bijaksana dalam mengambil waktu untuk istirahat, berolah raga, dan rekreasi. Jangan merasa bersalah dalam melakukan hal ini. Jika tubuh kita secara fisik sehat dan baik, kita juga akan melakukan pelayanan dengan lebih baik.



Bagian 3: Diskusi Kelompok.

1. Jelaskan susunan prioritas yang anda miliki selama ini sebelum mendengar materi ini. Mengapa urutannya demikian?


2. Bagaimana cara anda mulai memiliki urutan prioritas yang benar sesuai dengan pengajaran di sesi ini?