Program Harvest International Curriculum

Trimester 3

Dipimpin oleh Roh Kudus Sesi 3 dari 5


Topik Sesi 3: Bagaimana Menerima Arahan pada Masa yang Sulit.



Bagian 1: Daftar Ayat Renungan.

Roma 8 : 16 “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.


Amsal 6 : 22 “Jikalau engkau berjalan, engkau akan dipimpinnya, jikalau engkau berbaring, engkau akan dijaganya, jikalau engkau bangun, engkau akan disapanya.”


1 Raja-Raja 19 : 5-6 “Sesudah itu ia berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu. Tetapi tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya: "Bangunlah, makanlah!" Ketika ia melihat sekitarnya, maka pada sebelah kepalanya ada roti bakar, dan sebuah kendi berisi air. Lalu ia makan dan minum, kemudian berbaring pula.



Bagian 2: Topik Kuliah.


Pendahuluan.

Dalam sesi ini, kita akan belajar bagaimana kita dipimpin oleh Roh Allah di saat-saat sulit atau dalam tekanan yang besar. Seringkali kita dapati saat kita dalam tekanan yang besar maka kita mengalami kesulitan untuk mendengar suara Allah. Padahal justru di saat-saat seperti inilah kita sangat butuh arahan dari Allah.

1 Raja-raja 19 : 1- 19 “Ketika Ahab memberitahukan kepada Izebel segala yang dilakukan Elia dan perihal Elia membunuh semua nabi itu dengan pedang, maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: "Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu." Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana. Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku." Sesudah itu ia berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu. Tetapi tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya: "Bangunlah, makanlah!" Ketika ia melihat sekitarnya, maka pada sebelah kepalanya ada roti bakar, dan sebuah kendi berisi air. Lalu ia makan dan minum, kemudian berbaring pula. Tetapi malaikat TUHAN datang untuk kedua kalinya dan menyentuh dia serta berkata: "Bangunlah, makanlah! Sebab kalau tidak, perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu." Maka bangunlah ia, lalu makan dan minum, dan oleh kekuatan makanan itu ia berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. Di sana masuklah ia ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Maka firman TUHAN datang kepadanya, demikian: "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?" Jawabnya: "Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku." Lalu firman-Nya: "Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!" Maka TUHAN lalu! Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu. Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa. Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?" Jawabnya: "Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup, dan mereka ingin mencabut nyawaku." Firman TUHAN kepadanya: "Pergilah, kembalilah ke jalanmu, melalui padang gurun ke Damsyik, dan setelah engkau sampai, engkau harus mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram. Yehu, cucu Nimsi, haruslah kauurapi menjadi raja atas Israel, dan Elisa bin Safat, dari Abel-Mehola, harus kauurapi menjadi nabi menggantikan engkau. Maka siapa yang terluput dari pedang Hazael akan dibunuh oleh Yehu; dan siapa yang terluput dari pedang Yehu akan dibunuh oleh Elisa. Tetapi Aku akan meninggalkan tujuh ribu orang di Israel, yakni semua orang yang tidak sujud menyembah Baal dan yang mulutnya tidak mencium dia." Setelah Elia pergi dari sana, ia bertemu dengan Elisa bin Safat yang sedang membajak dengan dua belas pasang lembu, sedang ia sendiri mengemudikan yang kedua belas. Ketika Elia lalu dari dekatnya, ia melemparkan jubahnya kepadanya.


1. Senantiasa Berjaga-jaga Setelah Setiap Kemenangan.

Dalam pasal sebelumnya yaitu pasal 18, dijelaskan bahwa Elia mengundang Raja Ahab, seluruh rakyat Israel, dan nabi-nabi Baal untuk berkumpul di Gunung Karmel. Di sana, Elia memanggil api turun dari surga untuk mempersembahkan korban bakaran. Peristiwa ini membuat seluruh rakyat Israel kembali kepada Tuhan. Di pasal ini juga dijelaskan Elia berdoa untuk hujan setelah kekeringan melanda bangsa Israel selama 3,5 tahun. Lalu Tuhan pun menurunkan hujan sehingga masa kekeringan berhenti. Ini membuktikan Elia dipakai Tuhan dengan luar biasa. Dalam 1 Raja-Raja 18 : 46a dikatakan “Tetapi kuasa TUHAN berlaku atas Elia.” Karena kuasa Tuhan inilah Elia bisa  melakukan banyak mujizat dan memperoleh kemenangan besar bersama Tuhan.

Setelah memperoleh kemenangan atau saat-saat indah bersama Tuhan seringkali kita akan diperhadapkan dengan suatu ujian besar. Oleh sebab itulah kita harus selalu berjaga-jaga. Hal ini dihadapi oleh Elia dan tokoh alkitab lainnya:

1.A. Elia merasa sangat ketakutan terhadap perkataan Izebel setelah ia memperoleh kemenangan besar dari Tuhan dengan mengalahkan nabi Baal dan menurunkan hujan (1 Raja-Raja 19).

1.B. Daud jatuh dalam dosa perzinahan dengan Batsyeba (2 Samuel 11) setelah ia dinubuatkan akan hal yang baik oleh Nabi Nathan (2 Samuel 7).

1.C. Simson merasa lemah dan bahkan berbicara tentang kematiannya sendiri setelah ia membunuh 1000 orang Filistin (Hakim-hakim 15).


2. Belajar dari Nabi Elia Saat dalam Tekanan.

Elia mengalami tekanan yang sangat besar dan membutuhkan arahan dari Tuhan. Seringkali di saat seperti ini malahan sulit untuk mendengar arahan dari Tuhan. Apa yang harus kita lakukan agar kita menerima arahan dari Tuhan di masa sulit? Kita dapat belajar dari Nabi Elia dalam 1 Raja-Raja pasal 19.

2.A. Jangan pernah menyerah. Saat kita mendapat tekanan dalam pelayanan, pekerjaan, pernikahan, atau perekonomian, seringkali kita sudah siap untuk menyerah. Tetapi setiap orang percaya tidak boleh menyerah. Bersama dengan Tuhan kita pasti akan menerima terobosan-terobosan baru.

2.B. Buanglah segala sesuatu yang tidak perlu. Terkadang kita menambah hal-hal yang tidak perlu yang sebenarnya bukan bagian dari kehendak Allah. Hal ini bisa menghambat kita dalam mencapai tujuan kita. Juga dalam pelayanan kita seringkali melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak diinginkan Allah. Contohnya adalah Daud ketika ia beritikad untuk membangun Bait Allah. Tuhan mengatakan kepada Daud bahwa Ia tidak memilih Daud untuk membangun Bait Allah. Tuhan sudah menetapkan keturunan Daudlah yang akan membangunnya. Demikian juga Tuhan tidak memanggil kita untuk melakukan atau memikul semua hal dalam pelayanan. Tuhan sudah menetapkan batasan-batasannya kepada kita, seperti dikatakan dalam 2 Korintus 10 : 13 “Sebaliknya kami tidak mau bermegah melampaui batas, melainkan tetap di dalam batas-batas daerah kerja yang dipatok Allah bagi kami, yang meluas sampai kepada kamu juga.”

2.C. Kita harus beristirahat. Dalam 1 Raja-raja 19 : 5 dikatakan Elia tidur di bawah pohon arar. Istirahat adalah hal penting. Secara rohani, kita perlu memiliki waktu istirahat di dalam Tuhan. Dalam istirahat ini kita menyerahkan segala kecemasan, kekhawatiran, dan ketakutan kita kepada Tuhan. Secara medis tekanan atau ketegangan akan mengganggu aliran darah ke otak yang bisa mengakibatkan penyakit. Aliran hikmat Allah juga bisa terganggu oleh kecemasan kita tersebut. Tubuh jasmaniah kitapun juga membutuhkan istirahat yang cukup. Apabila kita ingin mendapatkan arahan dari Tuhan, kita butuh istirahat.

2.D. Sediakan waktu untuk Firman Tuhan dan berdoa. Dalam ayat 6 dikatakan “Ketika ia melihat sekitarnya, maka pada sebelah kepalanya ada roti bakar, dan sebuah kendi berisi air. Lalu ia makan dan minum, kemudian berbaring pula.” Roti adalah gambaran dari Firman Allah, dan air adalah gambaran dari Roh Allah. Apabila kita ingin arahan dari Tuhan, kita perlu makan dan minum, yaitu membaca Firman Allah dan masuk dalam persekutuan dengan Roh Allah. Tuhan pasti akan berbicara kepada kita melalui FirmanNya yang hidup. Dalam Amsal 6 : 22 dikatakan “Jikalau engkau berjalan, engkau akan dipimpinnya, jikalau engkau berbaring, engkau akan dijaganya, jikalau engkau bangun, engkau akan disapanya.” Seringkali kita mengaku kita sudah membaca Firman dan berdoa, tapi tetap belum juga mendengar arahan dari Tuhan. Ini artinya kita masih belum cukup intim dengan Tuhan sehingga kita harus menyediakan waktu lebih lagi.

2.E. Ingatkan diri kita bagaimana Allah memimpin kita. Dalam ayat 11 dan 12 dikatakan “Lalu firman-Nya: ‘Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!’ Maka TUHAN lalu! Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu. Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa.” Saat itu Elia berada di Gunung Horeb atau Gunung Sinai, di mana Allah dulu pernah berbicara kepada bangsa Israel melalui Musa (Keluaran 19). Di sini Allah sedang mengajarkan satu pesan kepada Elia bahwa Allah tidak memimpin Elia dalam tanda-tanda yang kelihatan atau bisa dirasakan seperti angin yang besar ataupun gempa dan api. Pimpinan Allah juga bukan sesuatu yang spektakuler. Tetapi Allah memimpin melalui suara Roh Kudus yang lembut dan tenang. Demikian juga dengan kita, kita tidak perlu mencari sesuatu tuntunan Allah yang besar dan spektakuler. Kita perlu dengar suara Roh Kudus dalam hati kita yang memberikan damai sejahteraNya. Roh Kudus jugalah yang bersama dengan roh kita bersaksi bahwa kita adalah anak-anak Allah seperti dikatakan dalam Roma 8 : 16 “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.”

2.F. Sadarlah bahwa kita tidak sendirian. Dalam ayat 18 dikisahkan bahwa Elia bukanlah satu-satunya yang mengalami tekanan. Ada 7000 orang Israel lainnya yang juga mengalami tekanan karena mereka tidak menyembah Baal. Sebagaimana Tuhan menolong banyak hamba-hambaNya melalui tekanan, maka Tuhan juga pasti akan menolong kita. Pastor Bayless Conley bersaksi tentang banyak masalah yang timbul saat beliau hendak membangun gerejanya. Dan suatu hari seorang temannya menelpon dan mengatakan bahwa ia mendapat perkataan hikmat dari Tuhan untuk beliau. Teman Pastor Bayless ini rupanya juga telah selesai membangun gereja yang besar beberapa tahun sebelumnya. Dan ia merasa sudah hampir mati saat menghadapi tantangan yang begitu besar. Tetapi Tuhan menguatkan dan menolongnya. Ia menegaskan bahwa ia percaya Tuhan juga pasti menolong Pastor Bayless Conley. Dan kemudian pertolongan Tuhan memang sungguh terjadi hingga Pastor Bayless merampungkan pembangunan gerejanya.

2.G. Bertindak sesuai dengan arahan Tuhan. Setelah kita menerima arahan dari Tuhan, kita harus mempunyai keberanian untuk bertindak. Allah pasti memberkati kita untuk menjadi berkat. Kita percaya bahwa Tuhan akan memberkati kita dengan masa depan yang penuh dengan harapan.



Bagian 3: Diskusi Kelompok.

1. Tekanan besar apakah yang pernah anda alami sehingga membuat anda tidak bisa mendengar arahan dari Tuhan?


2. Pernahkah anda mengalami ujian setelah anda memperoleh kemenangan bersama Tuhan? Jelaskan.


3. Dari 7 hal yang anda pelajari dari Elia, menurut anda, manakah yang belum anda lakukan? Mengapa?