Program Harvest International Curruculum

Trimester 3

Visi Kepemimpinan Sesi 1 dari 5


Topik : Merangkul Visi Tuhan



Bagian 1 : Daftar Ayat Renungan

Yeremia 1 : 4-12 “Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: 5 "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa." 6 Maka aku menjawab: "Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda." 7 Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. 8 Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN." 9 Lalu TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; TUHAN berfirman kepadaku: "Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu. 10 Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam." 11 Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: "Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?" Jawabku: "Aku melihat sebatang dahan pohon badam." 12 Lalu firman TUHAN kepadaku: "Baik penglihatanmu, sebab Aku siap sedia untuk melaksanakan firman-Ku."


Informasi dari pengajar kuliah ini:

Kuliah Visi Kepemimpinan diajarkan oleh Doktor David Shibley. Doktor David Shibley adalah pendiri dari pelayanan bernama Global Advance yang melayani puluhan ribu pemimpin-pemimpin gereja di yang sekarang sudah menjangkau 65 negara. Ia juga menggembalakan gereja-gereja di Arkansas, Oklahoma, dan Texas, Amerika Serikat. Beliau juga sudah menulis lebih dari 20 buku-buku.



Bagian 2: Topik Kuliah


Pendahuluan

Doktor David Shibley percaya bahwa ada kebutuhan yang sangat mendesak untuk visi-visi yang jelas, khusus, dan murni, yang berasal dari Tuhan bagi gerejaNya. Sekarang ini Tuhan sedang membuka banyak kesempatan dalam kita mengemban Amanat Agung-Nya. Ada kerinduan dari tahta sorga yang menginginkan gereja-gereja ditanam di setiap kelompok suku bangsa di seluruh dunia.


Tetapi agar ini bisa terlaksana, para pemimpin gereja harus memiliki visi Allah dahulu di dalam hatinya. Amsal 29 : 18a berkata, “ Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat.” Dalam terjemahan bahasa Inggrisnya ayat ini ditulis “Tanpa visi maka rakyat akan binasa.” Sekarang adalah saatnya gereja sebagai pengantin perempuan dari Yesus, hidup dalam tujuan Allah agar seluruh dunia mengenal Yesus Kristus, hingga namaNya ditinggikan sampai ke ujung bumi.


Materi Visi Kepemimpinan ini bertujuan untuk mempersekutukan hidup anda dengan visi Allah. Visi yang Alkitabiah bukanlah visi yang membicarakan tentang ide-ide cemerlang, bukan suatu visi dari kesepakatan suatu kelompok, juga bukan suatu visi yang berbau mistik. Visi yang Alkitabiah diterima ketika Allah mengungkapkan isi hatiNya kepada kita tentang masa depan, dan Ia meletakkan beban tertentu di dalam hati kita untuk melaksanakannya. Visi ini bisa saja demi membela suatu ketidak-adilan dalam pernyataan kehendak Allah. Tetapi visi ini juga bisa disampaikan Allah untuk kita menjangkau jiwa-jiwa yang belum diselamatkan di daerah kita. Intinya, apapun yang Allah katakan kepada kita, kita harus melakukannya. Saat melaksanakan misi Allah inilah hidup kita yang sebelumnya tidak berarah akan tiba pada kehidupan yang memiliki fokus jelas. Kita akan mempelajari hal ini dari kehidupan Nabi Yeremia yang diambil dari Yeremia 1 : 4-12 “Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: 5 "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa." 6 Maka aku menjawab: "Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda." 7 Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. 8 Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN." 9 Lalu TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; TUHAN berfirman kepadaku: "Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu. 10 Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam." 11 Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: "Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?" Jawabku: "Aku melihat sebatang dahan pohon badam." 12 Lalu firman TUHAN kepadaku: "Baik penglihatanmu, sebab Aku siap sedia untuk melaksanakan firman-Ku."


Saat kita menerima Yesus sebagai juruselamat kita, kita juga menerima anugerah kehidupan kekal, dan menjadi anak-anak Allah. Dan setiap anak Allah sudah pasti memiliki karuniaNya. Roh Kudus-lah memberikan karunia Allah guna kita melaksanakan pekerjaan-pekerjaan khusus yang Allah berikan. Kepada Yeremia, Allah nyatakan bahwa Ia telah menetapkannya menjadi nabiNya sejak sebelum Yeremia dilahirkan. Yeremia awalnya tidak menganggap dirinya mampu untuk memikul tugas khusus Allah. Kita pun juga seringkali mengungkapkan hal yang sama, kita merasa bahwa kita masih terlalu kecil dan muda, dan belum sanggup menerima tanggung jawab dari Tuhan. Tetapi apapun yang kita pikir itu tidaklah penting karena Tuhan sudah memberikan tugasnya bagi kita. Materi pengajaran ini akan mengulas 5 prinsip meresponi panggilan yang kita dapat pelajari dari Nabi Yeremia:


1.  Aku Penting bagi Kerajaan Allah, oleh sebab itu Aku akan Berlaku Seperti Seorang Duta Besar. Allah berkata kepada Yeremia di ayat ke 7 “Janganlah katakan: Aku ini masih muda.” Allah tidak mau Yeremia berkata bahwa ia tidak mampu mengerjakan pekerjaan yang Allah berikan kepadanya. Mungkin banyak dari kita sudah memiliki panggilan Tuhan ini, tetapi kita tetap merasa tidak mampu untuk melakukannya. Mungkin kita merasa tugasnya mustahil dilakukan, dan mungkin juga orang lain telah mentertawakan kita akan tugas tersebut. Kita perlu ingat bahwa visi yang Tuhan berikan harus kita pegang erat-erat sebelum jadi kenyataan lepas dari halangan yang ada. Kita tidak boleh lari dari tugas tersebut, karena sumber kekuatan hidup kita datang dari penggenapan akan visi dari Tuhan tersebut. Itulah sebabnya kita sangat penting bagi Kerajaan Allah.

Dalam pemikiran yang sama, kita juga harus hidup berpadanan dengan panggilan Tuhan tersebut. Tuhan telah memanggil kita menjadi duta-duta besarNya, yaitu utusan atau perwakilanNya di manapun kita berada (2 Korintus 5 : 20). Kita harus menjalani hidup dalam kehormatan panggilan Allah tersebut, memiliki suatu martabat sebagai seorang duta besar. Ini bukan berarti kita menjadi sombong dalam kedagingan kita. Tetapi kita harus memiliki suatu sikap yang sangat menghargai tentang siapa kita di dalam Kristus. Ada 3 alasan mengapa kita itu penting bagi Kerajaan Allah:

1.A. Kita diciptakan menurut gambarnya Allah (Kejadian 1 : 27).Kita adalah satu-satunya ciptaan Allah yang secara unik diciptakan seturut gambarNya, melebihi semua ciptaan-ciptaan Allah lainnya. Kita juga diciptakan segambar Dia agar kita memiliki kapasitas untuk mengasihi Dia.

1.B. Kita telah ditebus dengan harga mahal (1 Petrus 1 : 18-19). Kita ditebus dengan darah Kristus, dan nilai tebusan ini sangat mahal. Begitu berharganya kita sampai Yesus bersedia meninggalkan sorgaNya hanya untuk datang ke dunia untuk menebus setiap dari kita.

1.C. Kita berharga karena setiap dari kita memiliki kontribusi unik bagi Kerajaan Allah. Di  Filipi 3 : 21 Rasul Paulus berkata bahwa Ia berupaya mengejar dan menangkap panggilannya sebagaimana ia sendiri telah ditangkap oleh Yesus. Ada alasan khusus mengapa Tuhan menangkap kita dan membawa kita menjadi bagian dari keluarga Kerajaan Allah. Ada suatu kontribusi unik yang hanya kita yang bisa lakukan bagi Kerajaan Allah. Artinya ada pesan atau tugas khusus dari Tuhan yang hanya kita yang dapat menyampaikannya atau melakukannya. Kalau kita tidak mau melakukannya, tidak ada lagi yang bisa melakukannya dalam keunikan kita tersebut. Dunia akan alami kekurangan tanpa kita melakukan kehendak Tuhan tersebut.


2. Firman Allah ada di Mulutku, oleh sebab itu Aku akan Berbicara sebagai Pembawa Pesan Allah.

Yeremia 1 : 9 berkata bahwa Allah akan “menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu.” Ini alasan utama mengapa setiap hamba Tuhan tidak boleh ragu-ragu dalam memperkatakan Firman Allah. Kita harus percaya bahwa saat Firman Tuhan diwartakan ada suatu dinamika kuasa Tuhan yang bekerja.

Saat kita mewartakan Firman, iman kita memiliki pengaruh. Bila kita sendiri tidak yakin bahwa kuasa Allah akan menjamah para pendengar, maka tidak akan terjadi apa-apa. Seorang pengkhotbah terkenal bernama C. H. Spurgeon yang hidup di tahun 1834-1892 pernah bersaksi. Suatu hari ada pengkhotbah muda yang mau berhenti melayani karena tidak pernah ada yang diselamatkan saat ia berkhotbah. Rupanya masalah si pengkhotbah muda ini adalah karena ia sendiri tidak percaya bahwa khotbah-khotbahnya dapat mempertobatkan orang-orang. Saat kita mewartakan Firman, kita juga harus mempraktekkan iman kita. Kalau Tuhan telah tempatkan FirmanNya di mulut kita, maka kita harus bertindak selayaknya sebagai pembawa pesanNya itu. Kita khotbahkan atau wartakan segala sesuatu yang kita sendiri meyakininya tanpa keraguan. 1 Petrus 1 : 4a “Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah.”


3. Pekerjaan Allah adalah Pekerjaanku, oleh sebab itu Aku akan Menjadi Pekerja yang Giat.

Yeremia 1 : 10 “Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam." Ada orang yang masih berpikir bahwa Allah bekerja tanpa membutuhkan kerja keras dari hamba-hambaNya. Ada tuntutan kerja keras dan ketekunan yang mendalam saat kita melakukan pekerjaan Allah. Kalau Allah bekerja keras, maka kitapun demikian seperti Firman Allah juga mengajar bahwa kita adalah kawan sekerja Allah (1 Korintus 3 : 9). Juga di 2 Timotius 2 : 15 berkata “Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.”

Setiap dari kita suatu hari harus berdiri di hadapan Yesus untuk mempertanggung-jawabkan semua tindakan dan perilaku kita setelah kita menerima keselamatan kita. Kita harus mempertanggung jawabkan setiap keuangan yang dipercayakan, atau setiap hubungan yang kita bangun dengan saudara-saudari lainnya. Tetapi kita juga harus pertanggung-jawabkan waktu yang telah dipercayakan kepada kita. Yesus mungkin akan bertanya mengapa para pelajar-pelajar muda lebih tekun belajar daripada kita, atau mengapa seorang petani lebih rajin menggarap tanahnya daripada kita bekerja di ladang tuaian.


4. Pewahyuan Allah itulah Kualifikasi-ku, oleh sebab itu Aku akan Berdoa.

Banyak orang keliru dalam berpikir bahwa kualifikasi terutama untuk melayani adalah pendidikan. Tentu saja pendidikan merupakan kualifikasi yang penting. Namun tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mengecap pendidikan dalam memperdalam Firman Tuhan. Tetapi sesungguhnya yang memberikan kualifikasi bagi kita untuk melayani adalah pewahyuan dan visi yang Tuhan berikan agar kita bertindak dalam pelayanan. Yeremia secara khusus menerima suatu penglihatan dari Allah di Yeremia 1 : 11 “Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: "Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?" Jawabku: "Aku melihat sebatang dahan pohon badam."

Sesungguhnya hanya di dalam doa sajalah maka kita bisa menerima pewahyuan dari Allah. Dalam doa maka visi dari Tuhan itu diimpartasikan kepada kita. George Muller yang hidup dari 1805-1898 adalah seorang hamba Tuhan yang benar-benar hidup oleh iman. Tuhan memberikan visi bagi dia untuk menolong anak-anak yang miskin dan terlantar di kotanya. Setiap hari beliau harus menghadapi tantangan finansial dalam pelayanannya. Beliau menulis tentang rahasianya dalam menghadapi pelayanan yang berat ini. Setiap hari sebelum ia memulai pelayanannya ia akan masuk terlebih dahulu ke dalam hadirat Tuhan. Tugas beliau pertama-tama setiap hari adalah agar ia mendapatkan sukacita di dalam Tuhan sebelum ia memulai pelayanannya. Hanya sesudah mendapatkan sukacita inilah maka ia memiliki kemampuan dan kuasa dari Tuhan. Berikut adalah beberapa kunci yang kita bisa ikuti demi memiliki kehidupan doa yang efektif:

4.A. Berdoa dengan komitmen waktu (Kisah Para Rasul 3 : 1).

4.B. Berdoa dengan kesungguhan (Yakobus 5 : 16).

4.C. Berdoa secara spesifik (Matius 16 : 19).

4.D. Berdoa dalam persatuan (Kisah Para Rasul 4 : 24).

4.E. Berdoa secara terus menerus (Lukas 11 : 9).

4.F. Berdoa dengan berani (Ibrain 4 : 16).

4.G. Berdoa dengan keyakinan dan penuh pengharapan (1 Yohanes 5 : 14-15).


5. Aku Harus Menabur supaya Aku Dapat Menuai, oleh sebab itu Aku akan Menabur dengan Iman.

Yeremia 1 : 17 “Tetapi engkau ini, baiklah engkau bersiap, bangkitlah dan sampaikanlah kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah gentar terhadap mereka, supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka!" Yeremia diperintahkan Allah untuk bersiap, bangkit, bertindak, dan menyampaikan pesan dari Allah. Yeremia tidak akan menuai bila ia tidak menabur. Demikian juga kita tidak akan menuai suatu visi yang kita tidak tabur sebelumnya. Sebab itulah kita harus mendengarkan Firman Tuhan dan panggilan unik apa yang Tuhan mau kita lakukan. Ingatlah bahwa kita itu sangat penting dan berharga di dalam Kerajaan Allah.



Diskusi Kelompok :

1. Dari kelima respon panggilan sesuai Nabi Yeremia, yang manakah yang paling menggugah hati anda? Jelaskan.


2. Apa saja halangan-halangan yang kita hadapi dalam memulai melaksanakan visi yang Tuhan telah berikan ke hati kita?